BJ Habibie

Keputusan Berat di Tengah Krisis Moneter: Hentikan Proyek N250 Demi Selamatkan Ekonomi Indonesia

tokoh | 28 Juni 2026 06:47

Keputusan Berat di Tengah Krisis Moneter: Hentikan Proyek N250 Demi Selamatkan Ekonomi Indonesia
Dok wikipedia

SURABAYA, PustakaJC.co – Pesawat N250 bukan sekadar proyek industri dirgantara, melainkan simbol mimpi Indonesia menjadi negara maju berbasis teknologi. Namun di tengah krisis moneter 1997-1998, Presiden ke-3 Republik Indonesia B.J. Habibie terpaksa mengambil keputusan paling berat dalam perjalanan kariernya, yakni menghentikan proyek pesawat nasional N250 demi menyelamatkan perekonomian Indonesia.

 

Keputusan tersebut diambil setelah pemerintah menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan International Monetary Fund (IMF) pada awal 1998 sebagai bagian dari upaya pemulihan ekonomi nasional. Salah satu konsekuensinya adalah penghentian dukungan pemerintah terhadap berbagai proyek strategis yang membutuhkan pendanaan besar, termasuk proyek pesawat N250 yang dikembangkan PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), kini PT Dirgantara Indonesia.

 

Padahal, pesawat turboprop N250 telah mencatat sejarah melalui penerbangan perdana pada 10 Agustus 1995 dan saat itu memasuki tahap akhir sertifikasi kelaikan terbang internasional untuk pasar Amerika Serikat dan Eropa.

 

Bagi Habibie, keputusan tersebut bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga pengorbanan terhadap cita-cita yang telah diperjuangkannya selama puluhan tahun dalam membangun industri teknologi tinggi nasional.

 

 

Dalam memoarnya Detik-Detik yang Menentukan (2006), Habibie mengaku tidak memahami alasan IMF meminta pemerintah menghentikan dukungan terhadap proyek N250.

 

Menurutnya, pesawat tersebut memiliki prospek bisnis yang sangat menjanjikan, terutama ketika harga minyak dunia meningkat. Dibandingkan pesawat jet, N250 dinilai lebih hemat bahan bakar sehingga sangat kompetitif untuk penerbangan jarak pendek hingga menengah.

 

Selain itu, Habibie meyakini Indonesia sebagai negara kepulauan membutuhkan pesawat seperti N250 untuk memperkuat konektivitas antarwilayah, mempercepat distribusi logistik, sekaligus mendukung pengembangan sektor pariwisata nasional.

 

Namun kondisi ekonomi saat itu tidak memberi banyak pilihan. Krisis moneter menyebabkan nilai tukar rupiah terpuruk, sektor perbankan kolaps, investasi menurun drastis, dan keuangan negara berada dalam tekanan berat sehingga pemerintah harus memprioritaskan stabilitas ekonomi.

 

Penghentian proyek N250 kemudian menjadi salah satu keputusan paling kontroversial dalam sejarah industri dirgantara Indonesia.

 

 

Meski proyek tersebut tidak berlanjut hingga produksi massal, N250 tetap dikenang sebagai tonggak penting kebangkitan teknologi nasional. Pesawat itu menjadi bukti bahwa insinyur Indonesia pernah berhasil merancang dan membangun pesawat modern dengan teknologi fly-by-wire, sebuah teknologi canggih yang saat itu hanya dikuasai sedikit negara.

 

Warisan pemikiran B.J. Habibie juga terus menjadi inspirasi bagi pengembangan industri strategis nasional. Pemerintah melalui PT Dirgantara Indonesia hingga kini masih mengembangkan berbagai pesawat karya anak bangsa, termasuk CN235, NC212i, dan N219 yang digunakan untuk mendukung konektivitas wilayah, pertahanan, hingga pelayanan masyarakat di daerah terpencil.

 

Keputusan menghentikan N250 memang menyelamatkan stabilitas ekonomi Indonesia saat menghadapi krisis terbesar dalam sejarah modern. Namun di sisi lain, keputusan itu juga menjadi pengingat bahwa pembangunan industri berteknologi tinggi membutuhkan fondasi ekonomi yang kuat agar mampu bertahan menghadapi gejolak global.

(int)