SUMENEP, BeritaGov.id – Nama KH Muhammad Habibullah Rais mungkin belum begitu dikenal luas di tingkat nasional. Namun, di kalangan pesantren Madura, khususnya Kabupaten Sumenep, beliau dikenal sebagai ulama yang alim, produktif menulis kitab, sekaligus memiliki keteladanan akhlak yang luar biasa.
KH Muhammad Habibullah Rais merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Is'af Kalabaan, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep. Ia lahir di Desa Kalabaan pada 6 Jumadil Akhir 1352 Hijriah atau sekitar tahun 1935 Masehi. Sejak muda, Kiai Habib menempuh pendidikan di sejumlah pesantren besar di Madura dan Jawa Timur.
Perjalanan intelektualnya dimulai di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan pada tahun 1952. Tidak berhenti di sana, sepulang menunaikan ibadah haji, ia kembali memperdalam ilmu agama di Pondok Pesantren Bata-Bata, Pamekasan.
Sosok Kiai Habib dikenal sangat menghormati guru-gurunya. Ketawadhuannya menjadi cerita yang masih dikenang hingga kini. Bahkan, ketika hendak bepergian ke wilayah tertentu, ia memilih jalan yang lebih jauh demi menjaga adab kepada para gurunya yang berada di sekitar pesantren.
Selain aktif mengajar dan mengasuh pesantren, Kiai Habib juga dikenal sebagai penulis produktif. Salah satu karya terkenalnya adalah kitab Tarbiyatus Shibyan, yang membahas akhlak santri, adab menuntut ilmu, penghormatan kepada orang tua dan guru, hingga tuntunan hidup bermasyarakat.
Kitab tersebut kembali mendapat perhatian publik ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh KH Muhyiddin Abdusshomad dan Nyai Hj Hodaifah dengan judul Ngaji Akhlak Santri: Kiat Meraih Barakah. Sejak saat itu, pemikiran dan ajaran Kiai Habib semakin dikenal oleh masyarakat luas.
Selain Tarbiyatus Shibyan, Kiai Habib juga menulis sejumlah kitab lainnya, seperti Fath Al-Jannah wa Washiyyat Al-Azwaj, Umm Al-'Ibadah, Dalil Al-Nisa', Hidayatu Al-Tawshit Bayna Al-Ta'aththi wa Al-Tafrith, dan Idhahu Ba'dhi Al-Mubhimat fi Ba'dhi Al-Mushthalahat.
Tidak hanya menulis karya asli, ia juga menerjemahkan berbagai kitab klasik ke dalam bahasa Madura untuk memudahkan masyarakat memahami ilmu agama. Beberapa kitab yang diterjemahkannya antara lain Imrithi dan Alfiyah Ibnu Malik.
Di lingkungan Nahdlatul Ulama, Kiai Habib dikenal aktif mengikuti kegiatan keagamaan, termasuk Bahtsul Masail dan berbagai forum pengajian masyarakat. Kehadirannya menjadi rujukan keilmuan sekaligus teladan akhlak bagi banyak santri dan ulama muda di Madura.
Warisan terbesar Kiai Habib bukan hanya kitab-kitab yang ditulisnya, melainkan juga keteladanan sikap tawadhu, penghormatan kepada guru, dan kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan. Nilai-nilai itulah yang terus hidup dan diwariskan kepada generasi pesantren hingga saat ini. (nov)