Kemis Mlipis Antar Surabaya Raih Apresiasi Kemendikdasmen

pendidikan | 25 Mei 2026 19:33

Kemis Mlipis Antar Surabaya Raih Apresiasi Kemendikdasmen
Peserta didik dibiasakan berbahasa Jawa setiap Kamis di Surabaya. (dok radarsurabaya)

SURABAYA, PustakaJC.co – Komitmen Pemerintah Kota Surabaya dalam menjaga kelestarian bahasa daerah kembali mendapat pengakuan tingkat nasional. Melalui program Kemis Mlipis, Kota Pahlawan berhasil meraih Penghargaan Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Senin, (25/5/2026).

“Pemkot Surabaya bangga dengan penghargaan ini. Ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus berinovasi menjaga bahasa daerah agar tetap dekat dengan generasi muda,” kata Febri. Demikian dikutip dari radarsurabaya.jawapos.com, Senin, (25/5/2026).

Penghargaan tersebut diserahkan dalam puncak Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FTBIN) yang berlangsung di Gedung Garuda Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia Kemendikdasmen, Senin (25/5). Program Kemis Mlipis menjadi salah satu inovasi yang mendapat perhatian karena dinilai berhasil membiasakan penggunaan bahasa Jawa di lingkungan sekolah.

Mewakili Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Kepala Dinas Pendidikan Surabaya Febrina Kusumawati mengatakan penghargaan tersebut menjadi motivasi bagi Pemkot Surabaya untuk terus menghadirkan inovasi dalam pelestarian budaya lokal.

Ia menjelaskan, pelestarian bahasa Jawa di Surabaya kini tidak hanya dilakukan melalui pembelajaran formal di kelas, tetapi juga dikembangkan menjadi budaya keseharian di lingkungan sekolah melalui program Kemis Mlipis.

Dalam program tersebut, siswa, guru, hingga tenaga pendidik dibiasakan menggunakan bahasa Jawa selama satu hari penuh setiap Kamis. Menariknya, pelaksanaan program juga dikemas secara kreatif melalui berbagai konten media sosial sekolah agar lebih dekat dengan kehidupan pelajar masa kini.

“Selama satu hari penuh sekolah membiasakan penggunaan bahasa Jawa dengan berbagai kreativitas. Bahkan, inovasi-inovasi sekolah juga rutin dibagikan melalui media sosial,” ujarnya.

Selain Kemis Mlipis, Dinas Pendidikan Surabaya juga aktif menggelar Festival Tunas Bahasa Ibu yang melibatkan pelajar dalam berbagai perlombaan budaya Jawa, mulai dari nembang, ndongeng, maca geguritan, karawitan, dhagelan tunggal, pidato bahasa Jawa, hingga menulis aksara Jawa.

Menurut Febri, pendekatan kreatif menjadi strategi penting agar generasi muda lebih tertarik mempelajari budaya daerah tanpa merasa terbebani.

“Anak-anak sekarang harus diajak mencintai budaya dengan cara yang menyenangkan dan relevan dengan kehidupan mereka,” tuturnya.

Ke depan, Pemkot Surabaya berencana memperluas program pelestarian bahasa daerah melalui kegiatan ekstrakurikuler serta integrasi budaya lokal dalam aktivitas sekolah sehari-hari.

“Harapannya, bahasa Jawa bukan hanya dipelajari, tetapi benar-benar digunakan dan menjadi bagian dari karakter generasi muda Surabaya,” pungkasnya. (frchn)