Dinkes Jatim Tingkatkan Kewaspadaan Hantavirus Usai Temukan Satu Kasus di Surabaya

pemerintahan | 16 Mei 2026 17:31

Dinkes Jatim Tingkatkan Kewaspadaan Hantavirus Usai Temukan Satu Kasus di Surabaya
Kepala Dinas Kesehatan Jatim, Erwin Ashta Triyono. (dok jawapos)

SURABAYA, PustakaJC.co – Dinas Kesehatan Jawa Timur meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran Hantavirus setelah ditemukan satu kasus terkonfirmasi di Jawa Timur pada Januari 2026. Penguatan deteksi dini kini dilakukan di sejumlah rumah sakit rujukan dan fasilitas pelayanan kesehatan di berbagai daerah.

 

Kepala Dinas Kesehatan Jatim, Erwin Ashta Triyono, mengatakan pasien yang sebelumnya terpapar Hantavirus telah dinyatakan sembuh setelah menjalani penanganan medis. Dilansir dari jawapos.com, Sabtu, (16/5/2026).

 

“Hantavirus adalah penyakit zoonosis yang penularannya berkaitan erat dengan paparan tikus atau rodensia. Karena itu, pencegahan utama adalah menjaga kebersihan lingkungan,” ujar Erwin di Surabaya, Jumat (15/5).

 

 

 

Kasus tersebut diketahui melalui pemeriksaan leptospirosis di RSUD Dr. Soetomo sebelum akhirnya dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium lanjutan di BBLK Salatiga.

 

Menurut Erwin, Dinkes Jatim telah melakukan sosialisasi kepada dinas kesehatan kabupaten/kota serta fasilitas pelayanan kesehatan terkait kewaspadaan Hantavirus, termasuk penguatan deteksi dini dan tata laksana kasus.

 

Hantavirus dapat menular ke manusia melalui inhalasi aerosol dari kotoran tikus yang mengering, kontak langsung dengan rodensia atau lingkungan yang terkontaminasi, gigitan hewan terinfeksi, hingga makanan dan minuman yang tercemar.

 

Meski demikian, masyarakat diminta tidak panik namun tetap meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak langsung dengan tikus maupun kotorannya.

 

“Gejala yang ditimbulkan dapat berupa demam, sakit kepala, nyeri otot, lemas, batuk, sesak napas hingga gangguan ginjal, dengan tingkat keparahan yang bervariasi,” imbuhnya.

 

 

 

 

Secara global, berdasarkan laporan WHO pada awal Mei 2026, terdapat klaster Severe Acute Respiratory Infection (SARI) pada penumpang kapal pesiar berbendera Belanda di Inggris. Dari hasil pemeriksaan laboratorium ditemukan satu kasus Hantavirus tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS).

 

Hingga 4 Mei 2026 tercatat satu kasus konfirmasi dan lima kasus suspek dengan tiga kematian. Sementara selama periode 2025 hingga minggu ke-16 tahun 2026, tercatat 387 kasus Hantavirus terkonfirmasi di 10 negara, yakni Argentina, Chili, Bolivia, Brasil, Panama, Paraguay, Uruguay, Amerika Serikat, Taiwan, dan Indonesia.

 

Di Indonesia sendiri, surveilans Hantavirus telah dilakukan sejak 2024 di 21 rumah sakit di berbagai wilayah. Hingga 2026 tercatat sebanyak 23 kasus terkonfirmasi yang tersebar di sembilan provinsi. (ivan)