SURABAYA, PustakaJC.co — Suasana sore di Exhibition Hall Grand City Surabaya terasa berbeda. Cahaya lampu kekuningan memantul di antara deretan kain batik, tenun, hingga bordir yang menggantung rapi di setiap sudut pameran. Aroma khas kain baru bercampur suara riuh pengunjung yang hilir mudik memenuhi area Batik Bordir & Aksesoris Fair (BBA) 2026. Kamis, (6/5/2026).
Di sisi kanan dan kiri hall, para pelaku UMKM sibuk melayani pengunjung yang berhenti untuk menyentuh motif kain, mencoba aksesori, hingga menawar busana etnik modern yang dipajang elegan di booth-booth pameran. Sesekali terdengar tepuk tangan dan tawa dari area talkshow yang menjadi pusat perhatian sore itu.
Diselenggarakan ke-21 kalinya oleh PT Dayapromo Mitra Tama, pameran ini berlangsung selama lima hari pada 6–10 Mei 2026 mulai pukul 10.00–21.00 WIB di Exhibition Hall Grand City Surabaya.
Di tengah atmosfer wastra Nusantara yang begitu hidup, talkshow bertajuk “Dari Tradisi Jadi Inovasi: Membangun Brand Fashion dan Peluang Scale Up Bisnis Kreatif” menjadi salah satu sesi yang paling ramai dipadati pengunjung.
Hadir sebagai narasumber, Ketua Dekranasda Provinsi Jawa Timur Arumi Bachsin bersma Batik Artist sekaligus dosen, Zahir Widadi membahas masa depan industri batik dan peluang pengembangan bisnis kreatif berbasis budaya lokal.

Forum diskusi berlangsung hangat dan cair. Para peserta dari komunitas batik, mahasiswa, pengrajin, hingga pelaku usaha kreatif silih berganti mengangkat tangan untuk bertanya tentang masa depan batik Indonesia.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah bagaimana menjaga identitas batik di tengah arus modernisasi dan perkembangan teknologi.
“Kalau bicara batik, identitas Indonesia itu sebenarnya sudah sangat kuat. Tinggal bagaimana generasi muda berani mengeksplorasi desain dan memadukannya dengan kebutuhan zaman tanpa kehilangan ciri khasnya,” ujar Arumi.
Ia menilai batik kini bukan lagi sekadar kain tradisional, melainkan sudah menjadi bagian dari gaya hidup modern yang memiliki nilai ekonomi besar.
Di sela diskusi, beberapa peserta bahkan membawa langsung karya batik dan pewarna alami hasil produksi komunitas mereka. Ada yang menunjukkan kain berbahan kapas lokal, ada pula yang memperlihatkan pewarna indigo alami yang mereka kembangkan sendiri.
Sementara itu, Zahir Widadi menekankan pentingnya narasi budaya dalam industri batik. Menurutnya, banyak produk batik bagus secara visual, namun belum mampu menjelaskan filosofi dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
“Batik itu bukan hanya kain. Ada cerita, simbol, warna, ragam hias, sampai fungsi budaya di dalamnya. Kalau narasinya hilang, maka identitasnya juga hilang,” kata Zahir.
Ia juga mengingatkan bahwa generasi muda perlu memahami batik bukan hanya sebagai produk fashion, tetapi sebagai pengetahuan budaya yang harus diwariskan.
Suasana talkshow semakin hidup ketika peserta mulai membahas peluang batik menembus pasar internasional, peran AI dalam desain fashion, hingga peluang membuka program studi khusus batik untuk generasi muda.
Arumi menyebut kreativitas anak muda menjadi kunci penting agar batik terus berkembang tanpa kehilangan akar tradisinya.
“Eksplorasi itu penting. Anak muda sekarang punya kreativitas luar biasa. Tinggal bagaimana budaya ini dikemas lebih fresh, lebih dekat dengan pasar, tapi tetap menjaga akar tradisinya,” tuturnya.
Mengusung tema “Living with Wastra, Beyond Fabric”, Batik Bordir & Aksesoris Fair 2026 menghadirkan 160 peserta dalam 135 booth yang menampilkan beragam produk batik, bordir, tenun, songket, kebaya, busana muslim, hingga berbagai produk kreatif UMKM lainnya.
Menjelang petang, keramaian di area pameran belum juga surut. Pengunjung masih memadati lorong-lorong booth sambil menikmati warna-warni wastra Nusantara yang seolah menghidupkan kembali semangat tradisi di tengah modernitas kota Surabaya. (ivan)