Tafsir Al-Baghawi: Rujukan Aman Memahami Al-Qur’an, Ulama Sepakat Paling Valid

bumi pesantren | 04 Mei 2026 09:04

Tafsir Al-Baghawi: Rujukan Aman Memahami Al-Qur’an, Ulama Sepakat Paling Valid
Tafsir Al-Baghawi. (dok nuonline)

SURABAYA, PustakaJC – Kitab Ma’alimut Tanzil atau lebih dikenal sebagai Tafsir al-Baghawi menjadi salah satu rujukan utama umat Islam Sunni dalam memahami Al-Qur’an secara mendalam dan terpercaya.

 

Karya ulama besar, Imam Al-Baghawi ini bahkan dinilai sebagai salah satu tafsir bil ma’tsur terbaik. Imam Adz-Dzahabi menyebut tafsir ini sangat valid karena berbasis riwayat yang kuat. Dilansir dari nu.or.id, Senin, (4/5/2026).

 

Sejumlah ulama lain seperti Ibnu Taimiyyah dan Al-Khazin juga memuji keakuratan serta konsistensinya dalam berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah.

 

Dalam mukadimahnya, Imam Al-Baghawi mengungkap bahwa kitab ini disusun atas permintaan para muridnya yang haus akan ilmu tafsir.

 

 

Ia juga menyebut penulisan kitab ini sebagai bentuk menjalankan pesan Rasulullah kepada para penuntut ilmu, sekaligus upaya menjaga tradisi keilmuan para ulama salaf agar tetap hidup lintas generasi.

 

Tafsir ini dikenal memiliki sistematika yang rapi, antara lain:

 

  • Menjelaskan nama surah dan jumlah ayat
  • Menguraikan asbabun nuzul
  • Menafsirkan ayat dengan pendekatan bahasa dan konteks
  • Mengaitkan ayat dengan hadis dan pendapat sahabat

 

Selain itu, Imam Al-Baghawi juga menyertakan aspek tata bahasa (i’rab) serta ragam qira’at dalam penjelasannya.

 

Dalam ayat-ayat akidah, tafsir ini menegaskan paham Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus membantah penyimpangan.

 

Sementara pada ayat hukum, ia merangkum pendapat para imam mazhab seperti Imam Syafi’i dan Abu Hanifah secara singkat namun jelas.

 

 

Keunggulan utama Tafsir Al-Baghawi terletak pada keseimbangannya. Tidak terlalu panjang dalam riwayat, namun juga tidak lepas dari dasar teks.

 

Hal ini membuatnya dianggap “aman” bagi pelajar maupun masyarakat umum yang ingin memahami Al-Qur’an tanpa risiko penafsiran menyimpang.

 

Meski demikian, beberapa ulama mencatat adanya riwayat Israiliyat dalam tafsir ini.

 

 

 

Muhammad Husain Adz-Dzahabi mengungkap bahwa Imam Al-Baghawi kadang menyebut riwayat tersebut tanpa komentar.

 

Namun, para peneliti sepakat jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding tafsir klasik lain, sehingga tidak mengurangi kredibilitasnya secara signifikan.

 

Dengan keakuratan, kedalaman, dan metodologi yang sistematis, Tafsir Al-Baghawi tetap menjadi rujukan penting hingga hari ini.

 

Kitab ini bukan hanya warisan ulama klasik, tetapi juga panduan relevan bagi generasi modern dalam memahami Al-Qur’an secara benar dan bertanggung jawab. (ivan)