JAKARTA, PustakaJC.co — Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan pesantren disiapkan menjadi benteng utama dalam melindungi anak-anak dari ancaman kejahatan siber yang semakin kompleks.
Pernyataan itu disampaikan saat kunjungan kerja di Pondok Pesantren Qomarul Huda, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Selasa, (5/5/2026).
Menurut Meutya, ancaman di ruang digital saat ini bukan lagi sekadar potensi, melainkan sudah nyata dan menyasar langsung anak-anak Indonesia. Salah satu yang menjadi perhatian serius adalah penyusupan paham radikal melalui kamuflase gim daring. Dilansir dari antaranews.com, Rabu, (6/5/2026).
“Anak-anak sedang dijadikan target. Ini bukan lagi ancaman hipotetis, melainkan bahaya yang sudah terjadi di depan mata. Pesantren harus menjadi garda terdepan yang tangguh melindungi generasi muda,” ujarnya.
Temuan dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menunjukkan adanya pola infiltrasi paham ekstrem melalui platform digital yang dekat dengan keseharian anak, termasuk permainan online.