SURABAYA, PustakaJC.co - Di era media sosial, wisata bukan lagi sekadar soal datang, berfoto, lalu pulang. Wisatawan kini mencari sesuatu yang lebih dalam: pengalaman yang membekas, cerita yang bisa dibawa pulang, dan interaksi yang tak bisa ditemukan di tempat lain.
Perubahan tren pariwisata global itu membuka peluang besar bagi Jawa Timur. Dengan kekayaan alam, budaya, dan tradisi yang tersebar dari ujung barat hingga timur provinsi ini, Jawa Timur dinilai memiliki modal kuat untuk menjadi pusat wisata minat khusus di Indonesia.
Mulai dari megahnya Gunung Bromo, eksotisme Kawah Ijen, savana Baluran, kawasan geopark, wisata bahari, hingga ratusan desa wisata dengan karakter budaya yang berbeda-beda, semuanya menjadi kekuatan yang tidak dimiliki banyak daerah lain.
Namun di balik besarnya potensi tersebut, tantangan yang dihadapi tidak kecil. Persoalan infrastruktur dasar, standar keselamatan, hingga kualitas sumber daya manusia masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Evy Afianasari, mengatakan promosi wisata tidak boleh berjalan lebih cepat daripada kesiapan destinasi.
Menurutnya, keberhasilan pariwisata tidak hanya diukur dari banyaknya wisatawan yang datang, tetapi juga dari kualitas pengalaman yang mereka rasakan selama berada di Jawa Timur.
"Promosi memang penting, tetapi promosi hanya kami lakukan untuk destinasi yang memang sudah siap menerima wisatawan. Yang tidak kalah penting adalah memastikan standar keselamatan, kualitas SDM, hingga kesiapan layanan di destinasi tersebut," ujar Evy dalam wawancara eksklusif.
Karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur tidak hanya fokus memasarkan destinasi wisata. Berbagai upaya pembenahan terus dilakukan untuk memastikan setiap lokasi wisata memiliki standar pelayanan yang semakin baik.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah peningkatan kapasitas sumber daya manusia sektor pariwisata, terutama para pemandu wisata yang menjadi garda terdepan dalam memberikan pengalaman kepada wisatawan.
Selain itu, pelaku usaha wisata juga terus didorong meningkatkan kualitas layanan.
Bahkan, khusus bagi pelaku usaha makanan dan minuman di kawasan destinasi wisata, pemerintah memberikan pendampingan agar memperoleh sertifikasi halal.
"Kami terus mendampingi para pelaku wisata, termasuk pelaku usaha makanan di kawasan destinasi wisata agar memperoleh sertifikasi halal. Ini bagian dari kesiapan destinasi dalam memberikan layanan yang berkualitas kepada wisatawan," kata Evy.
Langkah tersebut dinilai penting karena wisatawan saat ini semakin memperhatikan aspek keamanan, kenyamanan, dan kualitas layanan selama berkunjung ke sebuah destinasi.
Tak hanya itu, perubahan cuaca yang semakin sulit diprediksi juga menjadi perhatian serius.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menghadirkan sistem peringatan dini di sejumlah desa wisata.
Melalui pemasangan Smart TV yang terhubung langsung dengan aplikasi BMKG, pengelola wisata dapat memantau kondisi cuaca secara real time.
"Kami bekerja sama dengan BMKG dan menempatkan Smart TV di beberapa destinasi wisata, terutama desa wisata. Sistem ini terhubung langsung dengan aplikasi BMKG sehingga menjadi early warning system yang dapat digunakan untuk meningkatkan keselamatan wisatawan," jelasnya.
Bagi destinasi wisata berbasis alam seperti pegunungan, pantai, maupun kawasan petualangan, informasi cuaca yang cepat dan akurat menjadi faktor penting dalam menjaga keselamatan pengunjung.
Sementara itu, pembenahan infrastruktur dasar juga terus dilakukan secara bertahap.
Menurut Evy, pihaknya melakukan pemetaan terhadap berbagai titik kritis yang membutuhkan intervensi pemerintah, kemudian berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah terkait untuk melakukan penanganan teknis.
Perbaikan akses jalan, penyediaan air bersih, sanitasi, hingga pembangunan jembatan penunjang kawasan wisata menjadi bagian dari upaya tersebut.
Salah satu contoh yang saat ini tengah mendapat perhatian adalah percepatan perbaikan akses di kawasan Cangar yang sempat terdampak longsor.
"Untuk infrastruktur dasar, kami melakukan pemetaan titik-titik kritis dan berkoordinasi dengan OPD terkait. Beberapa perbaikan jalan, fasilitas air bersih, sanitasi, hingga jembatan sudah dan terus dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur," tuturnya.
Bagi Evy, pembangunan pariwisata tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, komunitas lokal, akademisi, hingga masyarakat sekitar destinasi.
Sebab pada akhirnya, wisata minat khusus bukan hanya menjual tempat yang indah.
Wisata minat khusus menjual pengalaman. Menjual cerita. Menjual interaksi antara manusia, budaya, dan alam yang hidup secara autentik.
Di tengah kampanye besar "Wisata di Jatim Aja", Pemerintah Provinsi Jawa Timur berupaya memastikan setiap destinasi yang dipromosikan benar-benar siap memberikan pengalaman terbaik bagi wisatawan.
Langkah itu mungkin tidak selalu terlihat cepat. Namun pemerintah memilih membangun fondasi yang kuat agar pertumbuhan sektor pariwisata tidak hanya ramai sesaat, tetapi mampu bertahan dalam jangka panjang.
"Insyaallah sedikit demi sedikit, tetapi pasti. Dengan semangat Wisata di Jatim Aja yang aman dan nyaman, kami terus melakukan berbagai pembenahan agar wisatawan mendapatkan pengalaman terbaik saat berkunjung ke Jawa Timur," pungkas Evy.
Ketika dunia kini berlomba menjual pengalaman, Jawa Timur tampaknya sedang menata diri untuk mengambil peran lebih besar.
Karena masa depan pariwisata bukan lagi soal berapa banyak orang datang. Melainkan seberapa dalam kesan yang mereka bawa pulang.
(int)