SURABAYA, PustakaJC.co — Kawasan Pulo Wonokromo di Surabaya Selatan menyimpan jejak sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri. Nama “Pulo” yang melekat pada kampung tersebut diyakini berasal dari kondisi geografis masa lampau, ketika wilayah itu merupakan sebuah pulau kecil yang terbentuk dari endapan di aliran Kali Surabaya, Selasa (28/4/2026).
Pemerhati sejarah, Kuncarsono Prasetyo, mengungkapkan bahwa kawasan tersebut dulunya benar-benar berupa daratan terpisah di tengah sungai.
“Pulo Wonokromo adalah kampung di selatan Jembatan Wonokromo. Asal kata ‘pulo’ berarti pulau, yakni daratan hasil endapan di tengah sungai,” ujarnya, dikutip dari surabaya.jawapos.com.
Tak hanya sekadar pulau, kawasan ini juga memiliki peran strategis pada masa kolonial. Berdasarkan peta tahun 1719, lokasi tersebut pernah difungsikan sebagai kubu pertahanan VOC.
Dalam arsip bertajuk Peta Kamp di Wono Cromo dan penarikan kembali musuh, terlihat adanya posisi meriam yang ditempatkan di pulau tersebut.
“Pada masa itu belum ada permukiman. Wilayah dari Keputran hingga Wonokromo masih berupa hutan dan tegalan. Di Pulo Wonokromo berdiri kubu pertahanan VOC dengan meriam yang menghadap jalur sungai,” jelasnya.
Kuncarsono juga mengaitkan peta tersebut dengan peristiwa pemberontakan terhadap VOC pada 1718 oleh dua kekuatan lokal, yakni Kadipaten Kasepuhan yang dipimpin Adipati Jayapuspita dan Kadipaten Kanoman di bawah Adipati Jangrana III, sebagaimana tercatat dalam Babad Tanah Jawi.
“Jika merujuk pada peta itu, terlihat jelas bahwa Pulo Wonokromo dulunya adalah pulau, dengan ukuran yang kurang lebih sama seperti kampung yang ada sekarang,” katanya.
Lebih lanjut, ia menduga Jalan Pulo Wonokromo saat ini dulunya merupakan selat yang memisahkan pulau tersebut dari daratan utama. Seiring waktu, sedimentasi dan perkembangan wilayah membuat batas tersebut menghilang.
Permukiman di kawasan ini mulai berkembang pesat sekitar tahun 1960-an, dipicu oleh arus urbanisasi akibat tekanan ekonomi di pedesaan.
Kini, Pulo Wonokromo telah berubah menjadi kawasan padat penduduk dengan pemanfaatan lahan yang maksimal, terutama di sepanjang bantaran sungai.
“Sekarang hampir tidak ada lahan kosong. Semua sudah menjadi permukiman yang padat,” pungkasnya. (frchn)