SURABAYA, PustakaJC.co – Jauh sebelum Indonesia merdeka, ketika suara rakyat pribumi nyaris tak memiliki tempat, seorang pemuda Jawa memilih melawan dengan cara yang berbeda. Bukan dengan senjata, melainkan lewat tulisan yang tajam dan berani. Dialah Tirto Adhi Soerjo, tokoh yang kini dikenang sebagai Bapak Pers Nasional Indonesia.
Di zamannya, menjadi wartawan bukanlah profesi yang aman. Kritik terhadap pemerintah kolonial Belanda bisa berujung pengasingan, tekanan, bahkan kehilangan mata pencaharian. Namun risiko itu tidak membuat Tirto mundur.
Lahir di Blora, Jawa Tengah, sekitar tahun 1875 dengan nama Raden Mas Djokomono, Tirto berasal dari keluarga bangsawan Jawa. Meski memiliki latar belakang priyayi, ia justru memilih membela kepentingan rakyat kecil yang hidup di bawah ketidakadilan kolonial.
Melalui berbagai surat kabar yang didirikannya, Tirto menjadi salah satu tokoh pertama yang menggunakan media sebagai alat perjuangan. Ia percaya bahwa pendidikan dan informasi adalah senjata penting untuk membangkitkan kesadaran bangsa.
Nama Tirto semakin dikenal ketika mendirikan surat kabar Medan Prijaji, media yang dianggap sebagai koran modern pertama milik pribumi di Hindia Belanda. Berbeda dengan surat kabar lain pada masa itu, Medan Prijaji tidak hanya menyajikan berita, tetapi juga mengkritik kebijakan kolonial yang merugikan rakyat.
Tulisan-tulisannya dikenal tajam dan berani. Ia mengangkat berbagai kasus ketidakadilan, membela masyarakat yang tertindas, serta menjadi suara bagi kaum bumiputra yang selama ini tidak memiliki akses terhadap kekuasaan.
Karena keberaniannya, Tirto berkali-kali berhadapan dengan pemerintah kolonial. Tekanan, pengawasan, hingga pengasingan menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Namun ia tetap menulis dan terus memperjuangkan hak rakyat melalui media.
Banyak tokoh pergerakan nasional kemudian terinspirasi oleh langkah Tirto. Bahkan sejumlah jurnalis pribumi generasi berikutnya menganggapnya sebagai guru dan pelopor jurnalisme Indonesia.
Di balik kiprahnya yang besar, akhir hidup Tirto justru berlangsung sunyi. Ia wafat pada 7 Desember 1918 dalam kondisi yang jauh dari kemewahan dan popularitas. Namun sejarah kemudian membuktikan bahwa jasanya tidak pernah hilang.
Puluhan tahun setelah wafatnya, nama Tirto kembali dikenang sebagai tokoh penting dalam sejarah bangsa. Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2006 atas jasa-jasanya dalam membangun kesadaran kebangsaan melalui pers.
Warisan Tirto masih terasa hingga hari ini. Di tengah era digital yang serba cepat, semangatnya tetap relevan: bahwa pers harus menjadi alat kontrol sosial, menyuarakan kebenaran, dan berpihak pada kepentingan masyarakat.
Dari sebuah mesin cetak sederhana di masa kolonial, Tirto Adhi Soerjo telah menyalakan api yang hingga kini masih menyala dalam dunia jurnalistik Indonesia.
Karena sebelum bangsa ini memiliki kemerdekaan, Tirto lebih dulu mengajarkan bagaimana kemerdekaan berpikir harus diperjuangkan. (int)