Di balik kiprahnya yang besar, akhir hidup Tirto justru berlangsung sunyi. Ia wafat pada 7 Desember 1918 dalam kondisi yang jauh dari kemewahan dan popularitas. Namun sejarah kemudian membuktikan bahwa jasanya tidak pernah hilang.
Puluhan tahun setelah wafatnya, nama Tirto kembali dikenang sebagai tokoh penting dalam sejarah bangsa. Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2006 atas jasa-jasanya dalam membangun kesadaran kebangsaan melalui pers.
Warisan Tirto masih terasa hingga hari ini. Di tengah era digital yang serba cepat, semangatnya tetap relevan: bahwa pers harus menjadi alat kontrol sosial, menyuarakan kebenaran, dan berpihak pada kepentingan masyarakat.
Dari sebuah mesin cetak sederhana di masa kolonial, Tirto Adhi Soerjo telah menyalakan api yang hingga kini masih menyala dalam dunia jurnalistik Indonesia.
Karena sebelum bangsa ini memiliki kemerdekaan, Tirto lebih dulu mengajarkan bagaimana kemerdekaan berpikir harus diperjuangkan. (int)