SURABAYA, PustakaJC.co - Gerimis tipis turun di halaman PT Gelora Djaja (Wismilak Group), sore itu. Langit belum gelap, kursi-kursi sudah mulai terisi, dan dari dalam ruangan terdengar lantunan musik mengalun pelan. Acara belum dimulai.
Di sela waktu itulah, Kepala Dinas Sosial Jawa Timur, Restu Novi Widiani, berbicara tentang satu hal yang lebih besar dari sekadar agenda hari itu, makna menjadi perempuan di era Kartini hari ini.
Hari itu, Jawa Timur bersiap menyalurkan Bantuan Langsung Tunai Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) bagi buruh pabrik rokok lintas wilayah, sekaligus penguatan program Kewirausahaan Inklusif Produktif Putri Jawara 2026.
Namun bagi Novi, momen ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah refleksi panjang perjuangan perempuan sejak era Raden Ajeng Kartini.
“Sekarang ruang sudah terbuka. Perempuan bisa menjadi apa saja. Tinggal kita sendiri, mau melangkah atau tidak,” ujarnya kepada Jurnalis PustakaJC.co, Selasa, (21/4/2026).
Ia menegaskan, perempuan hari ini tidak lagi bisa bersembunyi di balik stigma lama. Hambatan terbesar justru datang dari dalam diri sendiri.
Dalam perjalanan hidup dan kariernya, Novi menyebut dua sosok perempuan yang paling mempengaruhi dirinya.
Pertama adalah ibunya sendiri. Dari sosok itulah ia belajar tentang ketangguhan, kemandirian, dan keberanian mengambil keputusan sejak usia muda.
Kedua, adalah Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.
Bagi Novi, Khofifah bukan hanya pemimpin, tetapi figur yang mampu menjembatani nilai-nilai masa lalu dengan tuntutan zaman modern.
“Beliau bisa menyeimbangkan pengalaman masa lalu dengan tantangan masa depan. Itu yang saya teladani,” kata Novi.
Ketangguhan itu tidak lahir dari kenyamanan.
Novi tumbuh dalam keluarga perempuan, dengan ayah yang sering berada di luar kota. Sejak remaja, ia terbiasa mengambil keputusan sendiri dan mengerjakan hal-hal yang biasanya dilakukan laki-laki.
Pengalaman itu berlanjut dalam kehidupan rumah tangga. Selama hampir 20 tahun menjalani hubungan jarak jauh karena tugas suami di BUMN, ia kembali ditempa menjadi sosok yang mandiri.
“Jadi ketika menghadapi situasi sulit, saya tidak kaget. Karena sudah terbiasa,” ujarnya.
Sebagai pejabat publik, Novi melihat perempuan memiliki keunggulan tersendiri dalam kepemimpinan—lebih detail, lebih peka, dan responsif terhadap persoalan.
Namun, tantangan zaman juga semakin kompleks.
Di era media sosial, kecepatan menjadi tuntutan utama. Ketika penanganan belum tiba di lokasi, kritik sudah lebih dulu menyebar.
“Padahal menjangkau daerah terpencil itu butuh waktu. Tapi persepsi publik bisa berbeda,” katanya.
Karena itu, ia menegaskan komitmennya: pelayanan sosial harus tetap hadir kapan pun dibutuhkan.
“Tidak ada libur. Karena masalah sosial itu terjadi setiap saat,” tegasnya.
Ia melihat, wajah perempuan Jawa Timur hari ini masih diwarnai perjuangan—terutama bagi mereka yang berada dalam kondisi rentan.
Ibu tunggal, buruh lintas wilayah, hingga perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga.
Namun justru dari keterbatasan itulah, lahir kekuatan.
“Kalau sudah terdesak, perempuan pasti bangkit. Yang tidak bisa jadi bisa,” ujarnya.
Program seperti Putri Jawara, menurutnya, hanyalah jembatan. Yang menentukan tetap keberanian perempuan itu sendiri.
Di tengah lantunan musik yang masih terdengar dari dalam ruangan, Restu menyampaikan pesan yang sederhana namun tegas.
Perempuan hari ini harus terus bergerak, belajar, dan berani mengambil peran.
“Jangan batasi diri. Pendidikan harus terus dikejar. Jejaring harus dibuka seluas-luasnya,” katanya.
Ia menekankan, untuk bisa bersaing, perempuan perlu tiga hal: kemampuan berpikir, kemampuan sosial, dan kekuatan emosional.
Lebih dari itu, ia mengingatkan pentingnya sikap mental.
“Harus tetap positif, tetap bersyukur, dan tidak mudah menyerah,” ujar Kepala Dinsos Jatim itu.
Sore itu, gerimis masih turun pelan. Musik terus menggema di ruangan. Acara belum dimulai.
Namun pesan Hari Kartini sudah terasa jelas.
Perempuan hari ini bukan lagi tentang siapa yang diberi ruang, tetapi siapa yang berani melangkah dan memberi dampak.
Dan bagi Restu Novi Widiani, makna itu sederhana:
“Perempuan tangguh adalah yang mampu bergerak dan berdampak—untuk diri, keluarga, dan masyarakat." (ivan)