Ketangguhan itu tidak lahir dari kenyamanan.
Novi tumbuh dalam keluarga perempuan, dengan ayah yang sering berada di luar kota. Sejak remaja, ia terbiasa mengambil keputusan sendiri dan mengerjakan hal-hal yang biasanya dilakukan laki-laki.
Pengalaman itu berlanjut dalam kehidupan rumah tangga. Selama hampir 20 tahun menjalani hubungan jarak jauh karena tugas suami di BUMN, ia kembali ditempa menjadi sosok yang mandiri.
“Jadi ketika menghadapi situasi sulit, saya tidak kaget. Karena sudah terbiasa,” ujarnya.
Sebagai pejabat publik, Novi melihat perempuan memiliki keunggulan tersendiri dalam kepemimpinan—lebih detail, lebih peka, dan responsif terhadap persoalan.
Namun, tantangan zaman juga semakin kompleks.
Di era media sosial, kecepatan menjadi tuntutan utama. Ketika penanganan belum tiba di lokasi, kritik sudah lebih dulu menyebar.
“Padahal menjangkau daerah terpencil itu butuh waktu. Tapi persepsi publik bisa berbeda,” katanya.