Kartini 2026 Berdaya Mewujudkan Indonesia Emas 2045

Moh. Ali Kuncoro: Perempuan Bukan Pelengkap Tapi Penentu Arah Jawa Timur

tokoh | 21 April 2026 05:30

Moh. Ali Kuncoro: Perempuan Bukan Pelengkap Tapi Penentu Arah Jawa Timur
Sekretaris DPRD Jawa Timur, Mohammad Ali Kuncoro, saat memimpin apel terakhir tahun 2025. (dok IG. @makuncoro)

SURABAYA, PustakaJC.co – Tidak semua kekuatan hadir dalam sorotan. Sebagian justru bekerja dalam diam—menjaga, menguatkan, dan memastikan segala sesuatu tetap berjalan pada jalurnya. Dalam banyak kisah, perempuan sering berada di ruang itu: tidak selalu terlihat, tetapi perannya menentukan.

 

Di momentum Hari Kartini 2026, dengan semangat Perempuan Berdaya Menuju Indonesia Emas 2045, pandangan tentang perempuan tidak hanya datang dari mereka yang menjalaninya, tetapi juga dari mereka yang menyaksikan, merasakan, dan bergantung pada kekuatan itu. Salah satunya datang dari Sekretaris DPRD Jawa Timur, Mohammad Ali Kuncoro.

 

Bagi Ali Kuncoro, perempuan hari ini bukan lagi sekadar pelengkap dalam pembangunan. Mereka telah menjadi bagian penting yang ikut menentukan arah—baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, hingga pemerintahan.

 

“Perempuan masa kini memiliki peran yang sangat strategis. Mereka adalah penggerak keluarga, penguat ekonomi, penjaga nilai sosial, sekaligus berkontribusi nyata dalam birokrasi, politik, pendidikan, dan pembangunan,” ujarnya.

 

Pandangan itu lahir bukan hanya dari pengalaman profesional, tetapi juga dari perjalanan personal. Dalam hidupnya, sosok perempuan pertama yang memberi pengaruh besar adalah ibunya sendiri.

 

Dari figur tersebut, ia belajar tentang arti pengorbanan yang tidak banyak diucapkan, tentang kerja keras yang tidak selalu terlihat, serta tentang doa yang diam-diam menguatkan langkah.

 

“Ibu mengajarkan saya ketulusan, kerja keras, dan kekuatan doa,” tutur sosok yang pernah menjabat sebagai Pj. Bupati Mojokerto inj.

 

Selain itu, ia juga melihat inspirasi dari kepemimpinan perempuan di ruang publik. Nama Khofifah Indar Parawansa menjadi salah satu contoh yang menurutnya mampu menghadirkan kepemimpinan yang tegas, namun tetap humanis dan inklusif.

 

Dari dua ruang itu—keluarga dan pemerintahan—ia melihat satu benang merah yang sama: perempuan memiliki kekuatan besar dalam membentuk arah, baik secara personal maupun kolektif.

 

Dalam pandangannya, kekuatan perempuan tidak hanya terletak pada peran formal, tetapi juga pada nilai-nilai yang mereka bawa. Integritas, empati, kecerdasan, ketangguhan, dan ketulusan menjadi fondasi yang menjadikan perempuan bukan hanya hadir, tetapi juga memberi dampak.

 

Nilai-nilai itu pula yang membuat perempuan mampu menjadi penyeimbang dalam banyak situasi. Dalam keluarga, perempuan menjaga kehangatan dan stabilitas. Dalam masyarakat, mereka menjadi penggerak yang menghadirkan solusi.

 

Ali Kuncoro juga menyoroti peran perempuan dalam lingkup yang lebih personal—sebagai istri dan pendamping hidup. Baginya, peran ini bukan sekadar pelengkap, melainkan penopang utama.

 

“Istri adalah pendamping yang memberi ketenangan dan keseimbangan. Dukungan, pengertian, dan doa dari seorang istri sangat berarti, terutama di tengah tanggung jawab pekerjaan yang besar,” ungkap mantan Kepala Biro Administrasi Pimpinan Provinsi Jawa Timur ini.

 

Ia meyakini, keharmonisan keluarga memiliki dampak langsung terhadap kualitas kerja dan ketahanan seseorang dalam menjalankan tugas.

 

Ada satu ungkapan sederhana yang ia sampaikan, namun menyimpan makna mendalam tentang peran perempuan.

 

“Perempuan adalah hero. Karena tanpa ‘her’, hero hanya tinggal ‘o’,” ujarnya.

 

Kalimat itu mungkin terdengar ringan, tetapi mencerminkan satu hal penting: di balik banyak keberhasilan, ada peran perempuan yang sering kali tidak terlihat, namun sangat menentukan.

 

Kekuatan itu, menurutnya, kerap bekerja dalam senyap. Tidak selalu tampil di depan, tetapi menjadi penopang yang menjaga keseimbangan tetap terjaga.

 

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa perjuangan belum sepenuhnya selesai. Masih ada sejumlah isu yang perlu terus diperjuangkan, mulai dari kesetaraan pendidikan, perlindungan perempuan dan anak, kesempatan kerja yang adil, hingga ruang partisipasi dalam pengambilan kebijakan publik.

 

Perbedaannya kini, perempuan tidak lagi hanya menjadi bagian dari isu, tetapi telah menjadi bagian dari solusi. Mereka hadir sebagai subjek yang aktif menentukan arah perubahan.

 

Ke depan, harapan pun tertuju pada generasi perempuan muda. Bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh, berintegritas, dan berakhlak.

 

“Teruslah belajar, percaya diri, dan jangan pernah meragukan kemampuan diri sendiri. Perempuan yang kuat akan melahirkan keluarga yang kokoh dan masyarakat yang maju,” pesannya.

 

Baginya, masa depan Jawa Timur—bahkan Indonesia—tidak bisa dilepaskan dari kualitas perempuan yang dimilikinya hari ini.

 

Hari Kartini, pada akhirnya, bukan sekadar peringatan. Ia adalah pengingat bahwa kekuatan perempuan adalah fondasi yang menjaga arah tetap lurus. Bahwa dari balik layar, dari ruang-ruang yang mungkin tidak selalu terlihat, perempuan terus bekerja—menguatkan, menyeimbangkan, dan diam-diam menentukan masa depan.

 

Dan dari sanalah, perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 menemukan pijakannya. (ivan)