Penduduk Lansia di Jatim Capai 15,45 Persen, Tertinggi Kedua Nasional

parlemen | 07 Mei 2026 20:00

Penduduk Lansia di Jatim Capai 15,45 Persen, Tertinggi Kedua Nasional
PENDATAAN: Plt Kepala BPS Jatim, Herum Fajarwati, menyebut Jawa Timur menjadi provinsi dengan persentase penduduk lansia tertinggi kedua di Indonesia. (dok radarsurabaya)

SURABAYA, PustakaJC.co – Provinsi Jawa Timur resmi memasuki fase ageing population atau struktur penduduk menua. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat persentase penduduk lanjut usia (lansia) di Jatim mencapai 15,45 persen dan menjadi yang tertinggi kedua secara nasional. Kamis, (7/5/2026).

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Jatim, Herum Fajarwati, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan transisi demografi di Jawa Timur semakin mengarah pada dominasi kelompok usia lanjut.

“Provinsi Jatim telah berada pada fase ageing population dengan persentase penduduk lanjut usia sebesar 15,45 persen. Jatim merupakan provinsi dengan persentase penduduk lanjut usia tertinggi kedua di Indonesia,” ujarnya, dikutip dari Radar Surabaya, Kamis (7/5/2026).

Selain meningkatnya jumlah lansia, pertumbuhan penduduk di Jawa Timur juga tercatat melambat. Dalam lima tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan penduduk berada di angka 0,73 persen per tahun dengan rasio ketergantungan mencapai 44,35.

Menurut Herum, perlambatan tersebut dipengaruhi oleh terus menurunnya angka kelahiran. Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (Supas) 2025, Total Fertility Rate (TFR) Jawa Timur tercatat sebesar 1,95.

“Angka Kelahiran Total atau TFR Provinsi Jatim terus menunjukkan penurunan. TFR hasil Supas 2025 sebesar 1,95 menunjukkan angka fertilitas yang rendah dan mempertegas transisi kependudukan menuju struktur penduduk menua,” jelasnya.

Angka TFR yang berada di bawah level penggantian penduduk menunjukkan rata-rata perempuan di Jawa Timur melahirkan kurang dari dua anak sepanjang masa reproduksinya. Kondisi tersebut diperkirakan akan berdampak terhadap komposisi usia produktif hingga kebutuhan layanan sosial pada masa mendatang.

Meski demikian, BPS mencatat adanya perkembangan positif di sektor kesehatan. Angka Kematian Bayi (Infant Mortality Rate atau IMR) di Jawa Timur terus mengalami penurunan dan kini berada di angka 11,84 per 1.000 kelahiran hidup.

“Angka Kematian Bayi terus menurun dan kini mencapai 11,84 per 1.000 kelahiran hidup,” kata Herum.

Penurunan angka kematian bayi tersebut dinilai menjadi indikator membaiknya layanan kesehatan ibu dan anak di Jawa Timur.

Di sisi lain, mobilitas penduduk di Jawa Timur juga tergolong tinggi. Sebagian besar kabupaten/kota di Jatim tercatat menjadi daerah tujuan migrasi yang ditunjukkan dengan angka migrasi risen neto positif.

“Sebagian besar kabupaten/kota di Provinsi Jatim merupakan daerah tujuan migrasi yang ditunjukkan dengan angka migrasi risen neto positif,” ujarnya.

Namun demikian, BPS juga mencatat masih terdapat delapan kabupaten/kota dengan angka migrasi risen neto negatif, yakni jumlah penduduk keluar lebih besar dibandingkan penduduk masuk.

Herum menegaskan, fenomena ageing population harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena peningkatan jumlah lansia akan berdampak langsung pada kebutuhan layanan kesehatan, jaminan sosial, hingga penyediaan lapangan kerja produktif.

“Fenomena ini perlu diantisipasi sejak dini agar bonus demografi yang dimiliki Jatim tetap bisa dimanfaatkan secara optimal,” pungkasnya. (frchn)