Perbankan Jatim Tetap Solid, OJK Nilai Likuiditas dan Modal Masih Kuat

pemerintahan | 30 Mei 2026 07:50

Perbankan Jatim Tetap Solid, OJK Nilai Likuiditas dan Modal Masih Kuat
Kantor Perwakilan OJK Jawa Timur di Surabaya. (dok antara)

SURABAYA, PustakaJC.co – Kinerja perbankan di Jawa Timur hingga Februari 2026 tetap menunjukkan kondisi yang solid. Di tengah pertumbuhan kredit yang masih terbatas dan penyaluran pembiayaan yang dilakukan secara selektif, sektor perbankan dinilai masih memiliki likuiditas yang memadai serta permodalan yang kuat untuk mendukung ekspansi usaha ke depan.

 

Kepala OJK Jawa Timur, Yunita Linda Sari, mengatakan kondisi perbankan di Jawa Timur masih stabil dan memiliki ruang yang cukup untuk mendorong pembiayaan secara lebih optimal seiring membaiknya permintaan kredit dan kondisi ekonomi regional. Dilansir dari antaranews.com, Sabtu, (30/5/2026).

 

“Perbankan di Jawa Timur masih berada dalam kondisi stabil dengan ruang yang cukup untuk mendorong pembiayaan secara lebih optimal seiring membaiknya permintaan kredit dan kondisi ekonomi regional,” kata Yunita dalam keterangannya di Surabaya, Jumat, (29/5/2026).

 

 

Data OJK menunjukkan kredit perbankan di Jawa Timur mencapai Rp620,09 triliun atau tumbuh 1,97 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan Desember 2025 yang tercatat tumbuh 1,90 persen.

 

Meski demikian, pertumbuhan kredit tersebut masih lebih rendah dibandingkan Desember 2024 yang mencapai 8,62 persen. Secara year to date (ytd), kredit bahkan mengalami kontraksi sebesar 0,89 persen yang mengindikasikan adanya penyesuaian penyaluran kredit pada awal tahun.

 

Menurut Yunita, dunia usaha maupun rumah tangga masih melakukan penyesuaian terhadap tingkat suku bunga, kondisi permintaan domestik, serta ketidakpastian ekonomi global sehingga ekspansi kredit berlangsung lebih hati-hati.

 

Di sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) justru menunjukkan kinerja yang lebih baik. DPK tercatat mencapai Rp830,757 triliun atau tumbuh 4,19 persen secara tahunan, meningkat dibandingkan posisi Desember 2025 yang tumbuh 3,50 persen.

 

“Peningkatan DPK menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan masih tetap kuat dan penghimpunan dana berjalan baik,” ujarnya.

 

 

Secara year to date, DPK tumbuh 1,61 persen atau lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi tersebut memberikan ruang likuiditas yang lebih longgar bagi industri perbankan untuk mendukung penyaluran kredit ke depan.

 

Sejalan dengan itu, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) atau Financing to Deposit Ratio (FDR) tercatat sebesar 74,64 persen, turun dari posisi Desember 2025 yang mencapai 76,52 persen.

 

Penurunan rasio tersebut menunjukkan pertumbuhan dana yang dihimpun lebih cepat dibandingkan penyaluran kredit sehingga peluang ekspansi pembiayaan masih terbuka cukup lebar.

 

Dari sisi risiko, kualitas kredit masih berada dalam batas yang terjaga meskipun terdapat kenaikan rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL). NPL Gross meningkat menjadi 3,63 persen dari sebelumnya 3,37 persen, sedangkan NPL Net naik menjadi 1,57 persen dari 1,47 persen.

 

OJK menilai kenaikan tersebut mencerminkan proses normalisasi kualitas kredit pascarestrukturisasi serta tekanan pada beberapa sektor usaha tertentu. Namun secara umum, kondisi tersebut masih dapat dikelola oleh industri perbankan.

 

 

Sementara itu, likuiditas perbankan Jawa Timur tetap berada pada level yang memadai. Rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) tercatat sebesar 26,63 persen dan AL/NCD sebesar 119,78 persen, jauh di atas ambang batas ketentuan masing-masing sebesar 10 persen dan 50 persen.

 

Meski rasio AL/DPK sedikit menurun dibandingkan Desember 2025 yang sebesar 26,74 persen, kondisi tersebut masih menunjukkan kemampuan perbankan yang kuat dalam memenuhi kebutuhan likuiditas jangka pendek.

 

Dari sisi permodalan, Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan Jawa Timur tercatat sebesar 30,48 persen pada Februari 2026. Angka ini memang sedikit menurun dibandingkan Desember 2025 yang sebesar 31,38 persen, namun masih tergolong sangat tinggi.

 

Menurut Yunita, kondisi tersebut mencerminkan struktur permodalan perbankan yang kuat untuk menyerap berbagai risiko sekaligus mendukung pertumbuhan bisnis pada masa mendatang.

 

Secara keseluruhan, OJK menilai industri perbankan Jawa Timur masih berada dalam kondisi sehat. Intermediasi tetap berjalan, likuiditas memadai, dan permodalan kuat meskipun pertumbuhan kredit masih terbatas serta risiko kredit perlu terus dicermati. (ivan)