Pengangguran di Jatim Masih 892,64 Ribu Orang, BPS Catat Penurunan Tipis Awal 2026

gaya hidup | 06 Mei 2026 09:35

Pengangguran di Jatim Masih 892,64 Ribu Orang, BPS Catat Penurunan Tipis Awal 2026
Ilustrasi pengangguran. (dok jawapos)

SURABAYA, PustakaJC.co — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran di Provinsi Jawa Timur mencapai 892,64 ribu orang pada Februari 2026. Angka tersebut berasal dari total angkatan kerja sebanyak 25,14 juta orang, Selasa (5/5/2026).

Statistisi Ahli Madya BPS Jawa Timur, Nurul Adriana, menyebutkan bahwa jumlah pengangguran mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Apabila dibandingkan Februari 2025, di Provinsi Jawa Timur jumlah pengangguran berkurang sebesar 1,86 ribu orang," ujarnya dalam konferensi pers di Surabaya, dikutip dari jawapos.com, Selasa (5/5/2026).

BPS juga mencatat bahwa jumlah penduduk usia kerja (PUK) di Jawa Timur terus mengalami peningkatan seiring pertumbuhan jumlah penduduk. Pada Februari 2026, PUK tercatat sebanyak 33,62 juta orang atau bertambah 280,14 ribu orang dibandingkan Februari 2025.

Dari total tersebut, mayoritas masuk dalam kategori angkatan kerja yang mencapai 25,14 juta orang, sementara sisanya sebanyak 8,48 juta orang tergolong bukan angkatan kerja.

Komposisi angkatan kerja terdiri dari 24,25 juta orang bekerja dan 892,64 ribu orang menganggur. Jika dibandingkan dengan Februari 2025, jumlah angkatan kerja meningkat sebesar 386,19 ribu orang dan jumlah penduduk bekerja bertambah 388,04 ribu orang.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2026 tercatat sebesar 3,55 persen atau turun 0,06 persen poin dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, lulusan perguruan tinggi masih menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi.

"Lulusan universitas memiliki TPT paling tinggi yaitu sebesar 6,04 persen, diikuti lulusan SMA sebesar 5,75 persen," jelasnya.

Sementara itu, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di Jawa Timur menunjukkan tren peningkatan dalam dua tahun terakhir. Pada Februari 2026, TPAK mencapai 74,78 persen atau naik 0,53 persen poin dibandingkan Februari 2025.

Berdasarkan jenis kelamin, TPAK laki-laki tercatat sebesar 86,55 persen, lebih tinggi dibanding perempuan yang berada di angka 63,23 persen. Keduanya mengalami kenaikan masing-masing sebesar 0,64 persen poin dan 0,42 persen poin dibandingkan tahun sebelumnya.

Dalam hal penyerapan tenaga kerja, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi penyumbang terbesar dengan porsi 31,76 persen. Disusul sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 18,62 persen, serta industri sebesar 14,38 persen.

Sebaliknya, sektor dengan penyerapan tenaga kerja paling rendah meliputi real estat sebesar 0,13 persen, pengadaan listrik dan gas sebesar 0,30 persen, serta pengelolaan air, sampah, dan daur ulang sebesar 0,39 persen.

Data ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi penurunan jumlah pengangguran, tantangan ketenagakerjaan di Jawa Timur masih perlu perhatian, terutama dalam meningkatkan penyerapan tenaga kerja di sektor formal dan bagi lulusan pendidikan tinggi. (frchn)