Harga BBM Naik Lagi, Pertamax Turbo Jadi Sorotan

gaya hidup | 20 April 2026 07:34

Harga BBM Naik Lagi, Pertamax Turbo Jadi Sorotan
Ilustrasi Pom Bensin atau SPBU. (dok nuonlie)

SURABAYA, PustakaJC.co - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kembali terjadi. Pertamina resmi menyesuaikan harga BBM nonsubsidi yang mulai berlaku sejak 18 April 2026, dengan lonjakan paling mencolok pada Pertamax Turbo.

 

Di wilayah Jakarta, harga Pertamax Turbo kini mencapai Rp19.400 per liter, melonjak jauh dari sebelumnya Rp13.100. Sementara itu, jenis BBM nonsubsidi lainnya relatif lebih stabil, seperti Pertamax di Rp12.600 per liter dan Pertamax Green di Rp12.900 per liter. Dilansir dari nu.or.id, Senin, (20/4/2026).

 

Untuk BBM bersubsidi, pemerintah masih menahan harga. Pertalite tetap di angka Rp10.000 per liter, sedangkan Bio Solar berada di Rp6.800 per liter.

 

Kenaikan juga terjadi pada BBM jenis diesel. Pertamina Dex mengalami lonjakan signifikan menjadi Rp23.900 per liter dari sebelumnya Rp14.500. Sementara Dexlite naik menjadi Rp23.600 per liter dari Rp14.200.

 

 

Penyesuaian harga ini tidak hanya berlaku di Jakarta, tetapi juga di sejumlah wilayah lain seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Bali, hingga Nusa Tenggara Barat. Bahkan di beberapa daerah, harga tercatat lebih tinggi. Di Aceh, Pertamax Turbo mencapai Rp19.850 per liter, sementara di Sumatera Barat dan Kepulauan Riau menembus Rp20.250 per liter.

 

Menanggapi kondisi tersebut, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pemerintah tetap menjaga ketersediaan dan harga BBM bersubsidi bagi masyarakat kecil. Ia menyebut sekitar 80 persen masyarakat masih akan mendapatkan subsidi.

 

“Untuk BBM bersubsidi, kita akan pertahankan bagi rakyat kecil. Sementara masyarakat mampu diharapkan membeli BBM dengan harga pasar,” ujarnya.

 

 

Prabowo juga menekankan pentingnya efisiensi dalam pengelolaan energi di tengah tekanan global. Ia mengingatkan agar tidak ada pemborosan, kebocoran, maupun praktik korupsi dalam sektor tersebut.

 

Kenaikan harga BBM nonsubsidi ini diperkirakan berdampak langsung pada biaya transportasi dan logistik. Jika tidak diantisipasi, kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok di berbagai daerah. (ivan)