GRESIK, PustakaJC.co – Buyos Festival Ramadhan kembali menjadi magnet warga Kabupaten Gresik untuk berburu takjil menjelang berbuka puasa. Festival kuliner yang digelar di GKB Convex ini tak hanya menawarkan ragam hidangan lezat, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi pelaku UMKM desa.
Festival yang diselenggarakan Pemerintah Desa Yosowilangun, Kecamatan Manyar, ini berlangsung mulai 19 Februari hingga 17 Maret 2026. Setiap sore, mulai pukul 15.00 hingga 18.00 WIB, lokasi festival dipadati pengunjung yang datang untuk ngabuburit sekaligus membeli aneka makanan berbuka. Dilansir dari gresiksatu.com, Sabtu, (21/2/2026).
Sebanyak 40 stan ambil bagian dalam gelaran tahun ini. Beragam menu tersedia, mulai dari kuliner tradisional hingga jajanan kekinian. Pengunjung dapat menemukan pempek khas Palembang, dawet Blauran, dimsum, bolu ketan hitam, es teler, hingga berbagai minuman segar yang menggugah selera.
Suasana festival semakin semarak dengan hiburan musik ringan yang mengiringi aktivitas pengunjung. Kombinasi kuliner dan hiburan menjadikan Buyos Festival Ramadhan sebagai destinasi favorit masyarakat dari berbagai kalangan, mulai anak muda hingga keluarga.
Kepala Desa Yosowilangun, Abdur Rosyid, mengatakan festival ini tidak sekadar menjadi bazaar kuliner, tetapi juga wadah pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Melalui kegiatan ini, kami ingin membangun kepercayaan diri para pelaku UMKM, terutama yang baru merintis usaha. Festival ini diharapkan menjadi penggerak roda perekonomian desa,” ujarnya, Sabtu, (21/2/2026).
Menurutnya, keberhasilan festival ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, mulai dari perangkat desa, pengurus RT/RW, hingga panitia pelaksana yang bersama-sama mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
Ia berharap Buyos Festival Ramadhan dapat terus berkembang dan menjadi agenda tahunan yang memberi dampak ekonomi nyata bagi masyarakat.
“Semoga festival ini terus berlanjut dan berkembang, tidak hanya sebagai pusat kuliner Ramadan, tetapi juga sebagai kebangkitan ekonomi desa,” pungkasnya. (ivan)