SURABAYA, PustakaJC.co — Ketua Dekranasda Provinsi Jawa Timur, Arumi Bachsin Emil Dardak, resmi membuka Batik Bordir & Aksesoris Fair 2026 di Exhibition Hall Grand City Mall Surabaya, Rabu, (6/5/2026).
Dalam sambutannya, Arumi menegaskan bahwa BBA Fair bukan sekadar ajang pameran tahunan, melainkan platform strategis untuk mendorong pelaku UMKM kriya Jawa Timur naik kelas hingga mampu melakukan scale up usaha.
“Batik Bordir & Aksesoris Fair ini bukan sekadar pameran, tetapi bagian dari upaya nyata kita mendorong UMKM naik kelas,” kata Arumi.
Menurutnya, konsep naik kelas berarti peningkatan kualitas produk, penguatan desain, standarisasi produksi, hingga profesionalisme dalam pemasaran.
“Naik kelas itu artinya kualitas produknya meningkat, standarnya lebih baik, desainnya lebih kuat, dan cara memasarkannya juga lebih profesional,” ujarnya.
Arumi menilai, penguatan kualitas menjadi fondasi utama sebelum UMKM memperluas pasar atau meningkatkan kapasitas usaha.
“Kalau fondasi kualitasnya belum kuat, sulit untuk scale up. Maka yang kita lakukan adalah memastikan UMKM ini benar-benar siap. Siap dari produknya, brandingnya, sampai manajemen usahanya,” katanya.
Setelah proses penguatan kualitas, Dekranasda Jatim mendorong UMKM melakukan scale up melalui perluasan akses pasar, jejaring bisnis, dan peningkatan kapasitas produksi.
“Setelah naik kelas, baru kita dorong scale up. Di sini peran event seperti BBA Fair menjadi penting, karena membuka akses pasar, mempertemukan produk dengan buyer, dan memperluas jejaring,” ucapnya.
Arumi juga menekankan pentingnya transformasi produk kriya dari sekadar komoditas menjadi identitas budaya yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
“Kita dorong transformasi dari komoditas menjadi identitas. Jadi yang kita jual itu bukan hanya produknya, tapi juga cerita dan sejarah di baliknya. Di situlah kekuatan branding batik kita,” tuturnya.
Selain penguatan desain dan storytelling, Dekranasda Jatim juga mendorong para perajin masuk ke ekosistem digital dan memanfaatkan platform omnichannel agar jangkauan pasar semakin luas.
Berdasarkan data yang disampaikan, sektor UMKM di Jawa Timur mencapai 4,58 juta unit usaha atau sekitar 99,72 persen dari total struktur usaha. Kontribusinya terhadap PDRB Jawa Timur pada 2024 mencapai 60,08 persen.
“Dengan jumlah sebesar itu, ketika UMKM didorong untuk scale up, maka dampaknya akan signifikan terhadap peningkatan ekonomi daerah,” ujar Arumi.
Ia menambahkan, posisi strategis Jawa Timur sebagai gerbang baru Nusantara juga menjadi peluang besar bagi UMKM untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing.
“Sebagaimana arahan Ibu Gubernur Khofifah, Jawa Timur kita dorong sebagai gerbang baru Nusantara sekaligus hub Indonesia barat dan timur. Dengan posisi ini, akses pasar menjadi lebih terbuka, sehingga UMKM kita memiliki peluang lebih besar untuk scale up dan meningkatkan pendapatan,” katanya. (ivan)