Perwakilan DFAT Australia, Riri Silalahi, menilai kualitas respons kemanusiaan tidak hanya diukur dari kecepatan penyaluran bantuan, tetapi juga dari efektivitas layanan kepada kelompok rentan.
Melalui Program Siap Siaga, kerja sama DFAT Australia dan LPBI PBNU telah menjangkau puluhan desa terdampak bencana dengan bantuan kebutuhan dasar serta dukungan psikososial bagi anak-anak, perempuan, dan kelompok rentan lainnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Deputi Pencegahan BNPB Pangarso Suryotomo menyampaikan proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Sumatra Barat masih menunggu implementasi Instruksi Presiden yang baru ditandatangani Presiden.
Ia memperkirakan proses rehabilitasi dan rekonstruksi dapat diselesaikan pada 2028 serta berharap rekomendasi dari lokakarya mampu memperkuat kebijakan pemerintah dalam percepatan pemulihan pascabencana.
"Kami berharap hasil lokakarya ini menjadi bahan pertimbangan untuk memperbaiki sistem penanggulangan bencana nasional," ujarnya.