SIDOARJO, PustakaJC.co - Keluarga besar Bani Majid kembali menggelar pertemuan ke-10 di Mitra Travel Annur Karah, Agung Simogirang, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, bertempat di kediaman Tauhid.
Acara berlangsung dengan khidmat dengan susunan kegiatan yang diawali pembukaan, dilanjutkan qiroah Al-Qur’an, sholawat mahalul qiyam, istighotsah dan tahlil, serta sambutan-sambutan.
Dalam sambutan pertama, Gatot Susanto menyampaikan adanya perkembangan di lingkungan keluarga, khususnya pada generasi muda.
“Alhamdulillah ada perkembangan, karena anak saya Nurina yang termasuk putri ketiga sudah mulai mau ngaji. Mungkin ke depan ngajinya bisa lebih panjang lagi, lebih meriah lagi, dan persiapannya bisa lebih baik,” ujar Gatot Susanto.
Sementara itu, Ketua Bani Majid Solihan Arif menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya pertemuan ke-10 tersebut.
“Alhamdulillah bisa berkumpul ke sepuluh kalinya, kita diberi kesehatan, rezeki, dan sesuatu yang terhormat,” tuturnya.
Ia kemudian menjelaskan tiga hal yang menjadi perhatian dalam keluarga Bani Majid.
“Keluarga Bani Majid menurunkan beberapa yang bisa dicontoh. Pertama pendidikan, bahwa pendidikan di Bani Majid itu secara turun-temurun. Ada yang mau meng-cover, ada yang uangnya tidak banyak, ini dedikasi yang baik di generasi, saling tolong-menolong menyekolahkan keluarga yang lain. Kita tidak tahu roda siapa yang akan memberikan kebaikan, maka kita bisa membantu keluarga kita ke jenjang yang lebih tinggi agar bisa bermanfaat,” jelasnya.
Kedua, “Arif juga mengusulkan bahwa acara ini dilakukan dua kali setahun,” lanjutnya.
Ketiga, “Bani Majid adalah bani petarung. Mbah-mbah kita orang yang sudah merantau ke mana-mana. Kita sebagai anak muda meskipun kerja serabutan, pertama pengalaman, kedua rendah hati, pekerjaan yang halal,” tegas Ketua Bani Majid itu.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh KH. Yahya Majid yang menekankan pentingnya penataan dan penguatan generasi penerus.
“Alhamdulillah diberi nikmat dan prioritas tersendiri bisa berkumpul di sini,” ujarnya.
Ia juga menyinggung perlunya pembentukan kepengurusan yang jelas dalam keluarga.
“Ada calon-calon santri yang perlu disiapkan, ketua, sekretaris, dan bendahara. Catat siapa yang tidak masuk, nanti yang akan datang didenda konsumsi secara penuh,” candanya yang disambut riuh tawa keluarga.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya nilai kesabaran, menahan amarah, dan memaafkan sebagaimana firman Allah SWT:
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
KH. Yahya juga menyoroti potensi besar generasi muda Bani Majid yang mulai menempuh pendidikan tinggi dan keagamaan.
“Ada banyak calon magister agama darikeluarga Bani Majid, ada calon tahfidz, ada calon ustadzah. Jangan sampai disia-siakan, harus dibantu mahasiswa calon generasi penerus Bani Majid. Mudah-mudahan nanti sampai tuntas, bukan hanya S2, tapi juga doktor dan profesor,” tuturnya.
Ia turut menekankan pentingnya budaya infaq dalam kehidupan keluarga.
“Infaqkan sebagian yang dimiliki. Kita tidak harus menunggu punya uang banyak. Nyatanya kemarin ada seorang janda membantu masjid sampai 80 juta, dan ada bos 30 juta. Tidak mesti yang punya uang banyak itu punya semangat. Di Bani Majid ini sudah dimulai sejak awal, hal seperti ini belajar menginfaqkan harta yang dijadwalkan,” jelasnya.
Menutup sambutannya, ia mengajak seluruh keluarga untuk menjadi pribadi yang dicintai Allah SWT.
“Wong seng seneng gawe acara koyo ngene iki disenengi Allah Ta’ala. Kulo jenengan pengen didadekno wong sing disenengi Allah Ta’ala,” pungkasnya.

Acara kemudian dilanjutkan denganmusafahah dan pengocokan arisan keluarga sebagai bentuk kebersamaan dan penguat silaturahmi antaranggota keluarga Bani Majid. (ivan)