Selain itu, ia mengingatkan pentingnya nilai kesabaran, menahan amarah, dan memaafkan sebagaimana firman Allah SWT:
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
KH. Yahya juga menyoroti potensi besar generasi muda Bani Majid yang mulai menempuh pendidikan tinggi dan keagamaan.
“Ada banyak calon magister agama darikeluarga Bani Majid, ada calon tahfidz, ada calon ustadzah. Jangan sampai disia-siakan, harus dibantu mahasiswa calon generasi penerus Bani Majid. Mudah-mudahan nanti sampai tuntas, bukan hanya S2, tapi juga doktor dan profesor,” tuturnya.
Ia turut menekankan pentingnya budaya infaq dalam kehidupan keluarga.
“Infaqkan sebagian yang dimiliki. Kita tidak harus menunggu punya uang banyak. Nyatanya kemarin ada seorang janda membantu masjid sampai 80 juta, dan ada bos 30 juta. Tidak mesti yang punya uang banyak itu punya semangat. Di Bani Majid ini sudah dimulai sejak awal, hal seperti ini belajar menginfaqkan harta yang dijadwalkan,” jelasnya.