Dari Tunjungan hingga Kalimas, Surabaya Menjual Kenangan Menjadi Destinasi Wisata Masa Depan

wisata | 13 Juni 2026 18:53

Dari Tunjungan hingga Kalimas, Surabaya Menjual Kenangan Menjadi Destinasi Wisata Masa Depan
Dok sub21

SURABAYA, PustakaJC.co - Jalan Tunjungan yang dahulu identik dengan kejayaan masa lalu kini kembali menemukan denyut kehidupannya. Ribuan warga dan wisatawan memadati kawasan bersejarah tersebut setiap akhir pekan, menjadikannya salah satu ikon wisata perkotaan paling hidup di Kota Pahlawan.

 

Transformasi itu bukan terjadi dalam semalam. Dalam satu setengah dekade terakhir, Surabaya perlahan mengubah wajah kotanya melalui pembangunan taman, ruang terbuka hijau, perbaikan infrastruktur dasar, hingga perluasan trotoar dan jalur pedestrian. Kota yang sebelumnya didominasi kendaraan bermotor mulai memberikan ruang lebih luas bagi pejalan kaki untuk menikmati sudut-sudut kota.

 

Perubahan tersebut kemudian berlanjut pada upaya revitalisasi kawasan bersejarah. Salah satu yang paling menonjol adalah program Tunjungan Romansa yang menghidupkan kembali koridor Jalan Tunjungan, kawasan yang sempat meredup akibat perubahan zaman, krisis ekonomi, hingga pandemi.

 

 

Melalui penataan trotoar, perbaikan fasad bangunan tua, pengembangan ekonomi kreatif, hingga penyediaan ruang publik yang nyaman, kawasan Tunjungan kini menjelma menjadi magnet wisata baru di Surabaya.

 

Setiap malam, kawasan tersebut dipenuhi pengunjung yang datang untuk menikmati suasana kota lama yang berpadu dengan kehidupan modern. Deretan bangunan heritage, pertunjukan musik jalanan, kuliner, hingga kafe-kafe yang tumbuh di sepanjang koridor menciptakan pengalaman wisata yang berbeda dibanding pusat perbelanjaan modern.

 

Alih-alih meninggalkan sejarah, Surabaya justru menjadikan bangunan-bangunan tuanya sebagai kekuatan utama untuk menarik perhatian generasi baru. Warisan masa lalu tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan aset yang mampu menciptakan nilai ekonomi sekaligus identitas kota.

 

Bagi sebagian pengunjung, Tunjungan bukan sekadar tempat berjalan-jalan. Kawasan ini juga menjadi ruang refleksi, tempat mencari ketenangan, hingga lokasi berkumpul bersama keluarga dan sahabat di tengah hiruk pikuk kehidupan perkotaan.

 

 

Tak hanya Tunjungan, Pemerintah Kota Surabaya juga terus menghidupkan sejumlah kawasan bersejarah lainnya seperti Kya-Kya Kembang Jepun, Kota Lama Surabaya, dan berbagai koridor heritage yang selama bertahun-tahun kurang mendapat perhatian.

 

Denyut wisata kota juga menjalar hingga Sungai Kalimas. Jalur air yang dahulu menjadi urat nadi perdagangan Surabaya kini kembali dimanfaatkan sebagai destinasi wisata yang menawarkan pengalaman berbeda dalam menikmati kota.

 

Wisata susur Kalimas menghadirkan perspektif baru tentang Surabaya. Dari atas perahu, pengunjung dapat menyaksikan wajah kota dari sudut yang jarang terlihat, sekaligus memahami bagaimana sungai tersebut memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Kota Pahlawan.

 

 

Keberhasilan menghidupkan kembali kawasan-kawasan bersejarah menunjukkan bahwa pembangunan kota tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang baru. Surabaya membuktikan bahwa sejarah, budaya, dan ruang publik dapat menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan ekonomi sekaligus penguatan identitas perkotaan.

 

Kini, ketika malam tiba dan lampu-lampu mulai menyala di sepanjang Jalan Tunjungan, kawasan tersebut bukan hanya menjadi tempat wisata. Ia telah menjelma menjadi simbol kebangkitan kota yang berhasil mengubah kenangan menjadi harapan, serta masa lalu menjadi bagian penting dari masa depan Surabaya. (int)