Balai Pemuda Dipertegas Jadi Jantung Seni Surabaya

wisata | 19 April 2026 18:27

Balai Pemuda Dipertegas Jadi Jantung Seni Surabaya
Seorang pengunjung menikmati lukisan yang dipamerkan di Balai Pemuda Surabaya. (dok jatimpos)

SURABAYA, PustakaJC.co — Balai Pemuda Surabaya kembali dipertegas sebagai jantung seni dan budaya di Kota Pahlawan. Komitmen itu terlihat dalam kegiatan On The Spot (OTS) bertajuk “Beauty of Balai Pemuda Surabaya” yang digelar dalam rangka peringatan Hari Kartini 2026.

 

Seorang pengunjung tampak menikmati lukisan yang dipamerkan, menjadi potret hidup bahwa Balai Pemuda bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan ruang kreatif yang terus berdenyut. Dilansir dari Minggu, (19/4/2026).

 

Ketua Sanggar Merah Putih, M. Anis, menegaskan Balai Pemuda memiliki nilai historis yang tak tergantikan. Sejak 1972, lokasi ini menjadi “rahim” lahirnya banyak seniman, mulai dari musisi, pelukis, hingga pegiat budaya.

 

“Menjaga Balai Pemuda berarti merawat ekosistem seni yang telah tumbuh puluhan tahun,” ujar Anis saat ditemui di sela kegiatan, Sabtu, (18/4/2026).

 

 

Ia menekankan, kesenian tidak bisa hanya diukur dari kontribusi ekonomi atau pendapatan asli daerah. Menurutnya, seni merupakan elemen penting dalam menjaga keseimbangan pembangunan kota, sehingga keberpihakan pemerintah menjadi hal mutlak agar ruang berekspresi tetap terbuka.

 

Anis juga mengapresiasi komitmen Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, yang dinilai memberi kepastian bahwa seluruh cabang kesenian tetap dapat beraktivitas di Balai Pemuda. Dukungan moral dan kebijakan, kata dia, jauh lebih penting dibanding bantuan material.

 

Di sisi lain, geliat seni rupa di Surabaya terus menunjukkan tren positif. Aktivitas Galeri Merah Putih bahkan disebut sebagai galeri terkecil namun terpadat di Indonesia, dengan puluhan agenda pameran setiap tahun—menjadi indikator kuat bahwa seni lukis di Surabaya tetap hidup dan produktif.

 

Senada, pelaku seni tari Sri Mulyani menilai perhatian Pemerintah Kota Surabaya terhadap pelaku budaya selama ini sangat nyata. Mulai dari fasilitasi gedung pertunjukan, dukungan event, hingga bantuan kegiatan ke luar kota.

 

“Dukungan tersebut mendorong perkembangan seni hingga ke level nasional bahkan internasional,” ungkapnya.

 

 

Menurutnya, langkah transformasi kelembagaan yang mengarah pada penguatan aspek kebudayaan juga menjadi sinyal positif. Hal ini membuka ruang lebih luas bagi pengembangan berbagai cabang seni di Surabaya.

 

Dengan berbagai upaya tersebut, Balai Pemuda tidak hanya berdiri sebagai bangunan bersejarah, tetapi juga menjadi simbol kreativitas sekaligus bukti komitmen Surabaya dalam menjaga identitas kota melalui seni dan budaya. (ivan)