Salah satu gagasan penting Gus Awis adalah pandangannya tentang Al-Qur’an sebagai samudra ilmu yang tidak pernah habis dikaji. Dalam salah satu karyanya, ia menegaskan bahwa setiap pembacaan Al-Qur’an yang disertai tadabbur akan menambah kedalaman spiritual dan intelektual seorang Muslim.
Ia menulis bahwa Al-Qur’an adalah lautan ilmu yang tidak bertepi, tidak habis keajaibannya, dan tidak pernah selesai dikaji, sehingga menuntut kehati-hatian dalam proses penafsiran.
Dalam pandangan Gus Awis, tafsir Al-Qur’an tidak dapat dilakukan secara parsial. Ia menekankan pentingnya integrasi antara ayat-ayat Al-Qur’an, hadis, kaidah bahasa Arab, ushul fikih, serta tradisi tafsir ulama terdahulu.
Hal ini tampak dalam karya monumentalnya Tafsir Hidayat Al-Qur’an fi Tafsir Al-Qur’an bi Al-Qur’an, yang menafsirkan Al-Qur’an 30 juz dalam empat jilid dengan pendekatan bayani yang kuat.