KH Hasyim Asy’ari

Ulama Pejuang Pendiri NU yang Satukan Spirit Agama dan Kebangsaan

tokoh | 16 Mei 2026 17:50

Ulama Pejuang Pendiri NU yang Satukan Spirit Agama dan Kebangsaan
KH Hasyim Asy’ari . (dok nuonline)

SURABAYA, PustakaJC.co - KH Hasyim Asy’ari dikenal sebagai ulama besar yang berhasil memadukan nilai spiritual Islam dengan semangat kebangsaan. Pemikirannya yang tertuang dalam Muqaddimah Qanun Asasi menjadi fondasi penting bagi perjalanan Nahdlatul Ulama sekaligus memberi pengaruh besar terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia.

 

Lahir di Desa Gedang, Jombang pada 14 Februari 1871, Kiai Hasyim tumbuh dalam lingkungan pesantren yang kuat. Sejak muda, beliau dikenal memiliki kecintaan mendalam terhadap ilmu agama hingga melakukan rihlah ilmiah ke Makkah pada usia sekitar 21 tahun. Dilansir dari nu.or.id, Sabtu, (16/5/2026).

 

Perjalanan intelektual di Tanah Suci membentuk karakter spiritual dan kepemimpinannya. Sepulang ke Indonesia, Kiai Hasyim mengabdikan hidup untuk dakwah, pendidikan, dan membangun kesadaran umat melalui pesantren.

 

Pengaruh besar beliau membuat pemerintah kolonial Belanda hingga Jepang terus mengawasi gerak-geriknya. Bahkan saat pendudukan Jepang, Kiai Hasyim pernah dipenjara karena menolak melakukan Seikerei atau penghormatan kepada Kaisar Jepang yang dianggap bertentangan dengan akidah Islam.

 

 

 

Sikap tegas itu memperlihatkan prinsip kuat yang dipegangnya dalam menjaga kemurnian tauhid sekaligus martabat bangsa. Baginya, agama dan perjuangan sosial tidak bisa dipisahkan.

 

Pada 31 Januari 1926 di Surabaya, KH Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul Ulama sebagai wadah persatuan umat Islam tradisional. Organisasi tersebut lahir bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi sarana memperkuat solidaritas masyarakat pribumi di tengah tekanan kolonialisme.

 

Pemikiran besar itu dituangkan dalam al-Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam’iyyah Nahdlatil Ulama. Dalam naskah tersebut, Kiai Hasyim menekankan pentingnya al-ittihad atau persatuan sebagai kunci kekuatan umat.

 

Menurutnya, perpecahan hanya akan melemahkan bangsa dan membuka jalan bagi penjajahan. Karena itu, persatuan tidak cukup diwujudkan secara simbolis, tetapi harus dibangun melalui kesamaan visi dan kepedulian terhadap nasib masyarakat.

 

 

 

Kiai Hasyim juga menempatkan ulama sebagai penjaga moral sekaligus pelopor perjuangan kebangsaan. Pemikiran itu terbukti melalui Resolusi Jihad 1945 yang menjadi pemicu semangat perlawanan rakyat dalam pertempuran 10 November di Surabaya.

 

Selain bidang politik dan keagamaan, beliau turut mendorong kemandirian ekonomi umat melalui gerakan perdagangan pesantren seperti Nahdlatut Tujjar. Langkah tersebut dilakukan agar masyarakat tidak terus bergantung pada kekuatan kolonial.

 

Hingga kini, pemikiran KH Hasyim Asy’ari tetap relevan di tengah tantangan bangsa modern. Ia mengajarkan bahwa perbedaan harus dikelola dengan semangat persaudaraan, sementara agama dan nasionalisme dapat berjalan seiring demi menjaga keutuhan Indonesia. (ivan)