SURABAYA, PustakaJC.co – Di balik riuhnya pembangunan dan dinamika birokrasi, ada sosok-sosok perempuan yang bekerja dalam senyap, namun dampaknya terasa luas. Mereka tidak selalu tampil di depan, tetapi keputusan dan dedikasinya ikut menentukan arah pelayanan publik. Dalam semangat Kartini 2026 Berdaya Mewujudkan Indonesia Emas 2045, perempuan seperti Aminatun—akrab disapa Mimin—menjadi cerminan bahwa ketangguhan tidak selalu hadir dalam sorotan, melainkan dalam konsistensi.
Sebagai Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, Aminatun menapaki peran strategis di tengah kompleksitas birokrasi. Baginya, Hari Kartini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat akan perjuangan panjang perempuan dalam meraih ruang dan kesempatan.
“Raden Ajeng Kartini adalah simbol keberanian, kecerdasan, dan semangat perubahan. Beliau mengajarkan bahwa perempuan harus berani bermimpi, terus belajar, dan memberi manfaat bagi masyarakat,”ujarnya saat berbincang dengan Jurnalis PustakaJC.co, Jumat, (17/4/2026).

Nilai-nilai itu tidak hadir begitu saja dalam dirinya. Mimin tumbuh dari didikan seorang ibu yang menjadi sumber kekuatan utama dalam hidupnya. Dari sosok tersebut, ia belajar tentang ketulusan, kerja keras, kesabaran, serta keteguhan menghadapi berbagai keterbatasan.
Ia mengenang, masa-masa sulit justru menjadi titik balik yang membentuk karakter. Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti, melainkan ruang untuk menempa diri.
“Dari situ saya belajar bahwa disiplin, tekad, dan kerja keras adalah kunci untuk berkembang,”tutur perempuan yang pernah menjabat Kabag Keuangan Dinas Pendidikan Provinsi Jatim ini.
Di dunia birokrasi, tantangan hadir dalam bentuk yang tidak sederhana. Peran sebagai perempuan, profesional, sekaligus bagian dari keluarga, sering kali harus dijalani dalam waktu yang bersamaan. Namun, bagi Mimin, tantangan bukan untuk dihindari.
“Tantangan terbesar adalah membagi peran. Tapi itu juga yang memotivasi saya untuk membuktikan bahwa perempuan mampu memimpin dan mengambil keputusan secara profesional,” tegasnya.
Mimin, saat acara Hari Kartini di DKP Jatim (tengah).
Dalam setiap langkah, Mimin menempatkan integritas sebagai fondasi utama. Keputusan, menurutnya, tidak hanya soal hasil, tetapi juga tentang proses yang dilandasi kejujuran, hati nurani, dan kepatuhan pada aturan.
Ia percaya, perempuan memiliki kekuatan khas dalam kepemimpinan. Empati, ketelitian, kemampuan komunikasi, serta kepekaan sosial menjadi modal penting dalam membangun pelayanan publik yang lebih humanis dan efektif.
Melihat perkembangan saat ini, Mimin menilai perempuan di Jawa Timur menunjukkan kemajuan yang signifikan. Mereka hadir sebagai pemimpin, pengusaha, akademisi, hingga penggerak masyarakat.
Namun, ia tidak menutup mata terhadap tantangan yang masih ada. Pemberdayaan ekonomi, akses pendidikan, perlindungan dari kekerasan, hingga kesempatan kerja yang setara masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
“Perlu kebijakan yang benar-benar berpihak pada perempuan, membuka akses pendidikan dan pelatihan, serta memberikan perlindungan hukum,” ujarnya.
Di luar peran formalnya, sisi kemanusiaan Mimin terlihat dari kepeduliannya terhadap lingkungan sekitar. Ia memilih berkontribusi melalui hal-hal yang sederhana namun bermakna, salah satunya dengan membangun tempat ibadah. Mushola Al Amin menjadi wujud nyata dari nilai yang ia pegang: memberi manfaat tanpa harus menunggu kesempatan besar.
Menutup perbincangan, Mimin menyampaikan pesan yang sederhana namun kuat, terutama bagi perempuan muda di Jawa Timur.
“Jangan takut bermimpi besar. Tingkatkan kapasitas diri, jaga akhlak, percaya pada kemampuan sendiri, dan jadilah perempuan yang mandiri serta bermanfaat,” pesannya.
Bagi Mimin, perempuan tangguh di era modern bukan hanya tentang keberhasilan pribadi, tetapi tentang bagaimana tetap berdiri tegak dalam nilai, menghadapi tantangan dengan kepala dingin, dan terus memberi arti bagi sekitar.
Semangat itulah yang, sedikit demi sedikit, akan membawa Indonesia menuju cita-cita besar: Indonesia Emas 2045. (ivan)