Bagi generasi senior, kebosanan dahulu adalah rahim dari imajinasi. Di sela waktu senggang tanpa gawai, muncul ide kreatif, perenungan mendalam, atau sekedar obrolan gayeng dengan tetangga. Namun bagi Gen Z, kebosanan dianggap sebagai musuh yang harus dibunuh dalam hitungan detik oleh algoritma. Begitu ada celah waktu, layar segera mengambil alih.
Hidup jangan hanya sibuk mendokumentasikan tetapi juga perlu merasakan. Sebab jika kita tidak merasa perlu merasakan, kita akan kehilangan kemampuan untuk "hadir" (presence) secara utuh. Kita lebih sibuk mendokumentasikan momen daripada merasakannya. Kegembiraan seolah dianggap tidak sah jika tidak mendapat pengakuan berupa like atau view. Padahal, kebahagiaan sejati sering kali bersifat privat—ia tumbuh dalam kesenyapan, tanpa perlu tepuk tangan digital.
Kita perlu menjembatani dua dunia ini. Ini bukan ajakan untuk anti-teknologi, melainkan ajakan untuk melakukan kurasi hidup.