Kolaborasi Global Didorong, UNAIR dan Kemlu Soroti Peran Anak Muda Hadapi Krisis Iklim

pendidikan | 25 April 2026 07:24

Kolaborasi Global Didorong, UNAIR dan Kemlu Soroti Peran Anak Muda Hadapi Krisis Iklim
Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan (LPMB) UNAIR, Hery Purnobasuki. (dok surabayapagi)

SURABAYA, PustakaJC.co – Universitas Airlangga (UNAIR) bersama Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) dan Asia-Europe Foundation (ASEF) mendorong penguatan kolaborasi global untuk menghadapi krisis iklim yang kian kompleks.

 

Komitmen tersebut ditegaskan dalam peringatan ASEM Day 2026 yang digelar di Kampus MERR-C Surabaya, Kamis, (23/4/2026), dengan mengusung tema One Planet, Infinite Responsibility: Igniting Water, Climate, and Ecosystem Action for the Future We Share. Dilansir dari surabayapagi.com, Sabtu, (25/4/2026).

 

Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan (LPMB) UNAIR, Hery Purnobasuki, menyebut dunia tengah dihadapkan pada ancaman serius mulai dari krisis air, perubahan iklim, hingga degradasi ekosistem.

 

“Tantangan ini tidak bisa ditangani secara parsial. Harus ada pendekatan terintegrasi, kolaboratif, dan berbasis ilmu pengetahuan agar komitmen global benar-benar berdampak di tingkat lokal,” ujarnya.

 

 

 

Ia menegaskan, perguruan tinggi memiliki posisi strategis sebagai pusat pengetahuan sekaligus motor inovasi.

 

“Universitas menjadi jembatan antara kebijakan global dan aksi lokal. Kontribusi akademik harus nyata dan terukur,” tegasnya.

 

Tak hanya forum diskusi, kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa melalui kompetisi film pendek bertema keberlanjutan. Langkah ini dinilai efektif membangun kesadaran kolektif sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor.

 

Sementara itu, Duta Besar RI sekaligus Gubernur Indonesia untuk Dewan Gubernur ASEF, Andri Hadi, menekankan bahwa kerja sama Asia-Eropa kini tak lagi sekadar soal diplomasi dan ekonomi.

 

“Perubahan iklim dan krisis air tidak mengenal batas negara. Respons kolektif yang kuat menjadi keharusan,” katanya.

 

 

Ia menambahkan, Indonesia telah mengambil langkah strategis melalui integrasi mitigasi karbon biru serta pendekatan nexus Air-Pangan-Energi dalam kebijakan iklim nasional.

 

Andri juga menyoroti peran kota seperti Surabaya yang dinilai mampu menghadirkan solusi konkret, mulai dari pengolahan sampah menjadi energi di Benowo hingga pengembangan ekowisata mangrove.

 

Di akhir forum, ia mengingatkan pentingnya peran generasi muda dalam isu lingkungan.

 

“Kalian bukan hanya masa depan, tapi sudah mulai membentuknya. Solusi dari lokal akan menjadi fondasi agenda global,” pungkasnya. (ivan)