Ekosistem industri tersebut ditopang oleh pasokan kayu hutan rakyat sekitar 3,5 hingga 4 juta meter kubik per tahun, program perhutanan sosial, tenaga kerja terampil, hingga jaringan ekspor global yang sudah terbentuk kuat. Nilai ekspor produk hasil hutan dan industri kayu Jatim pun disebut mencapai sekitar 2,5 miliar dolar Amerika Serikat.
Untuk memperkuat sektor ini, Dinas Kehutanan Jawa Timur mendorong empat agenda strategis, yakni penguatan hilirisasi hasil hutan, pengelolaan hutan berkelanjutan, perluasan akses pasar global melalui sertifikasi dan inovasi, serta percepatan ekonomi hijau.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah pengembangan Sistem Informasi Penatausahaan Hasil Hutan Rakyat (SIPUHH-R) guna memperkuat ketelusuran kayu dan sertifikasi keberlanjutan.
Di sisi lain, Presiden Direktur Dyandra Promosindo Daswar Marpaung menilai penguatan sektor hulu melalui teknologi dan mesin industri menjadi kunci peningkatan ekspor.
“Pada akhirnya nilai ekspor akan bertambah, tetapi itu sulit dicapai jika kita tidak memperkuat industri hulunya, yaitu machinery dan teknologi,” katanya.