Drainase Terintegrasi Jadi Kunci, Wali Kota Eri Cahyadi Tegaskan Penanganan Genangan Tak Bisa Parsial

surabaya | 29 April 2026 15:11

Drainase Terintegrasi Jadi Kunci, Wali Kota Eri Cahyadi Tegaskan Penanganan Genangan Tak Bisa Parsial
BERIKAN ARAHAN — Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke avur Margorejo, Selasa (28/4/2026). Dalam peninjauan tersebut, ia memaparkan mekanisme penanganan genangan di tiga kecamatan, yakni Wonocolo, Gayungan, dan Jambangan. (Dok. tribunjatim)

SURABAYA, PustakaJC.co — Pemerintah Kota Surabaya mulai memperkuat penanganan genangan air dengan pendekatan sistem drainase terintegrasi. Hal ini ditegaskan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di kawasan avur Margorejo, Selasa (28/4/2026).

Dalam sidak tersebut, ia memaparkan bahwa penanganan genangan di wilayah Wonocolo, Gayungan, dan Jambangan tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus berbasis pada aliran air yang saling terhubung dari hulu hingga hilir.

“Saat sidak saluran tadi, saya ingin menunjukkan mekanisme aliran air bahwa ini saling terhubung,” ujar Eri, dikutip dari jatim.tribunnews.com, Selasa (28/4/2026).

Menurutnya, pola penanganan lama yang hanya memindahkan air dari satu titik ke titik lain justru memunculkan genangan baru di wilayah berbeda. Ia mencontohkan aliran air dari Karah di Jambangan yang mengalir ke Gayungan hingga berdampak ke Wonocolo.

“Kalau dibuka, Wonocolo yang banjir. Kalau ditutup, Gayungan dan Ketintang yang banjir. Maka hari ini saya minta ditutup, tapi dialihkan ke Kebon Agung,” tegasnya.

Sebagai solusi, Pemkot Surabaya menyiapkan skema baru dengan mengalihkan aliran air menuju saluran Kebon Agung yang terhubung langsung ke Kali Surabaya melalui rumah pompa Kebonsari. Selain itu, aliran dari Margorejo juga diarahkan ke Avur Wonorejo untuk mendukung distribusi air yang lebih merata.

Eri juga menekankan pentingnya pemahaman teknis bagi camat dan lurah, termasuk dalam membaca elevasi dan arah aliran air.

“Lurah dan camat itu penguasa wilayah. Mereka harus memahami aliran air itu ke mana,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Drainase DSDABM Surabaya, Adi Gunita, menyebutkan bahwa sejumlah infrastruktur pendukung telah disiapkan, termasuk pengoperasian rumah pompa Margorejo sejak akhir 2025.

Ia menambahkan, saluran Prapen akan diperlebar dari 2–3 meter menjadi 11–12 meter untuk meningkatkan kapasitas tampung air.

“Saluran Prapen nanti akan dilebarkan untuk menampung aliran dari Margorejo dan sekitarnya,” ujarnya.

Dengan skema ini, penanganan genangan di Surabaya ditargetkan lebih efektif dan tidak lagi bersifat parsial, melainkan terintegrasi secara menyeluruh. (frchn)