JAKARTA, PustakaJC.co – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), melanjutkan safari diplomatiknya dengan menyambangi Duta Besar Republik Rakyat China untuk Indonesia, Wang Lutong, Jumat, (17/4/2026).
Pertemuan yang berlangsung di Kedutaan Besar China, Kuningan, Jakarta Selatan, itu membahas sejumlah isu global, terutama ketegangan di kawasan Teluk yang dipicu konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Dilansir dari nu.or.id, Sabtu, (18/4/2026).
Ketua PBNU, Ulil Abshar Abdalla, mengungkapkan bahwa dalam dialog tersebut, pihak China juga menyoroti tekanan yang selama ini datang dari Amerika Serikat.
“China sendiri menjadi sasaran tekanan dari Amerika Serikat sejak lama. Indonesia pun tidak lepas dari tekanan tersebut,” ujar Gus Ulil.
Menurutnya, kunjungan Gus Yahya bertujuan menyampaikan keprihatinan atas konflik yang belum mereda, sekaligus menggali pandangan resmi China terhadap dinamika global saat ini.
Selain isu geopolitik, pertemuan itu juga menyinggung kerja sama pertahanan antara Indonesia dan Amerika Serikat, termasuk soal izin lintas udara bagi pesawat militer AS di wilayah Indonesia.
“Dibicarakan juga soal kerja sama pertahanan, termasuk izin terbang pesawat Amerika melintasi wilayah udara Indonesia,” tambahnya.
Gus Ulil berharap langkah diplomasi yang dilakukan Gus Yahya mampu membawa suara warga Nahdlatul Ulama dan masyarakat Indonesia ke forum internasional melalui jalur nonformal.
Diskusi antara kedua pihak berlangsung intens selama hampir satu jam, dengan suasana hangat dan terbuka.
“Dubes sangat menghargai pandangan Gus Yahya. Diskusinya terasa nyambung,” katanya.
Dalam waktu dekat, Gus Yahya dijadwalkan melanjutkan kunjungan ke Duta Besar Rusia, Sergei Gennadievich Tolchenov, serta Duta Besar Pakistan, Zahid Hafeez Chaudhri.
Sebelumnya, ia juga telah menyambangi sejumlah kedutaan besar negara lain, termasuk Arab Saudi, Turki, Iran, dan Amerika Serikat.
Langkah ini dinilai sebagai upaya memperluas peran diplomasi masyarakat sipil Indonesia dalam merespons konflik global yang kian kompleks. (ivan)