Di Hadapan Peserta PKN II dan Latsar CPNS, Gubernur Khofifah Dorong Jadi Strategic Leader Yang Mampu Adaptif dan Tangguh Hadapi Tantangan Global

pemerintahan | 19 Mei 2026 21:15

Di Hadapan Peserta PKN II dan Latsar CPNS, Gubernur Khofifah Dorong Jadi Strategic Leader Yang Mampu Adaptif dan Tangguh Hadapi Tantangan Global
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menerima cinderamata usai membuka PKN II dan menutup Latsar CPNS di Kantor BPSDM Jawa Timur.

 

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa (tengah) berfoto bersama didampingi Kepala BPSDM Jatim Ramliyanto (kedua dari kiri) dan jajaran Pemprov Jatim pada pembukaan PKN II serta penutupan Latsar CPNS di Kantor BPSDM Jatim, Surabaya, Selasa, (19/52026).

 

Selain itu, Jawa Timur juga berhasil menjaga stabilitas inflasi dan memperkuat ketahanan pangan daerah. Berdasarkan data tahun 2025, Jawa Timur tetap menjadi provinsi dengan produksi padi dan beras tertinggi nasional dengan produksi padi mencapai 10,57 juta ton GKG dan produksi beras sekitar 6,1 juta ton.

 

Khofifah menegaskan, capaian tersebut menjadi bukti pentingnya kepemimpinan kolaboratif yang adaptif  terhadap perubahan teknologi, iklim, dan tantangan global.

 

“Prestasi ini tentu juga hasil dari bagaimana kita adaptif tidak hanya terhadap teknologi tetapi juga terhadap perubahan iklim dan kebutuhan untuk menjawab tantangan hari ini,” tegasnya.

 

Ia mengingatkan para peserta agar tidak merasa paling hebat dan selalu mengedepankan kerja kolaboratif dalam bekerja.

 

“Jangan pernah merasa paling smart, paling berprestasi, paling menguasai, tidak ada sukses  hasil dari kerja sendiri,” imbuhnya.

 

Untuk menjaga ketahanan pangan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus melakukan berbagai langkah mitigasi mulai dari pemetaan wilayah rawan kekeringan, percepatan masa tanam, optimalisasi sumber air, pompanisasi, rehabilitasi jaringan irigasi hingga Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

 

Khofifah berharap para peserta mampu memahami bahwa ketahanan pangan memerlukan kepemimpinan yang adaptif, kolaboratif, dan berbasis solusi nyata.

 

“Semua langkah ini dilakukan agar produktivitas pertanian tetap terjaga, risiko gagal panen dapat diminimalkan, dan ketahanan pangan masyarakat tetap terjaga,” katanya.